Home » » Konsep Ahlussunnah wal Jamaah/ASWAJA Pada Pemerintah

Konsep Ahlussunnah wal Jamaah/ASWAJA Pada Pemerintah

Written By Unknown on Kamis, 12 Januari 2017 | 13.06

Ahlussunnah wal Jamaah/ASWAJA itu tidak punya konsep memberontak kepada pemerintah muslim sekalipun ia dzalim

Rasulullah Saw bersabda:
 ﻣَﻦْ ﺭَﺃَﻯ ﻣِﻦْ ﺃَﻣِﻴﺮِﻩ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻳَﻜْﺮَﻫُﻪُ ﻓَﻠْﻴَﺼْﺒِﺮْ ﻋﻠﻴﻪ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣَﻦْ ﻓَﺎﺭَﻕَ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔَ ﺷِﺒْﺮًﺍ ﻓَﻤَﺎﺕَ َﺇﻻ ﻣَﺎﺕَ ﻣِﻴﺘَﺔًٌ ﺟَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔً

Barangsiapa melihat suatu (kemungkaran) yang ia benci pada pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar atas hal itu, karena sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri sejengkal dari jamaah (pemerintah) kemudian dia mati kecuali matinya adalah mati jahiliyah (HR.al-Bukhari)

 ﻳَﻜُﻮﻥُ ﺑَﻌْﺪِﻯ ﺃَﺋِﻤَّﺔ ﻻَ ﻳَﻬْﺘَﺪُﻭﻥَ ﺑِﻬُﺪَﺍﻯَ ﻭَﻻَ ﻳَﺴْﺘَﻨُّﻮﻥَ ﺑِﺴُﻨَّﺘِﻰ ﻭَﺳَﻴَﻘُﻮﻡُ ﻓِﻴﻬِﻢْ ﺭِﺟَﺎﻝٌ ﻗُﻠُﻮﺑُﻬُﻢْ ﻗُﻠُﻮﺏُ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦِ ﻓِﻰ ﺟُﺜْﻤَﺎﻥِ ﺇِﻧْﺲٍ ﻗَﺎﻝَ ﻗُﻠْﺖُ ﻛَﻴْﻒَ ﺃَﺻْﻨَﻊُ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﺃَﺩْﺭَﻛْﺖُ ﺫَﻟِﻚَ ﻗَﺎﻝَ ﺗَﺴْﻤَﻊُ ﻭَﺗُﻄِﻴﻊُ ﻟِﻸَﻣِﻴﺮِ ﻭَﺇِﻥْ ﺿُﺮِﺏَ ﻇَﻬْﺮُﻙَ ﻭَﺃُﺧِﺬَ ﻣَﺎﻟُﻚَ ﻓَﺎﺳْﻤَﻊْ ﻭَﺃَﻃِﻊْ

Akan ada sepeninggalku para penguasa yang tidak meneladani petunjukku, tidak mengamalkan sunahku, dan akan muncul diantara mereka (para penguasa) orang-orang yang hati-hatinya adalah hati-hati setan dalam jasad manusia. Aku (Hudzaifah bin Yaman) berkata, bagaimana aku harus bersikap jika mengalami seperti ini? Rasulullah Saw bersabda, engkau tetap dengar dan taat kepada pemimpin itu, meskipun punggungmu dipukul dan hartamu diambil, maka dengar dan taatlah (HR.Muslim dari Hudzaifah bin Yaman)

 ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺳَﺘَﺮَﻭْﻥَ ﺑَﻌْﺪِﻱ ﺃَﺛَﺮَﺓ ﻭَﺃُﻣُﻮﺭًﺍ ﺗُﻨْﻜِﺮُﻭﻧَﻬَﺎ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻓَﻤَﺎ ﺗَﺄْﻣُﺮُﻧَﺎ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺩُّﻭﺍ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ﺣَﻘَّﻬُﻢْ ﻭَﺳَﻠُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺣَﻘَّﻜُﻢْ

Sesungguhnya kalian akan melihat (pada pemimpin kalian) kecurangan dan hal-hal yang kalian ingkari (kemungkaran). mereka bertanya, apa perintahmu kepada kami wahai Rasulullah? beliau menjawab, tunaikan hak mereka (pemimpin) dan mintalah kepada Allah hak kalian (HR.Bukhari Muslim dari Ibnu Abbas)

Wail bin Hujr berkata:
 ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭَﺭَﺟُﻞٌ ﺳَﺄَﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺃَﺭَﺃَﻳْﺖَ ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﺃُﻣَﺮَﺍﺀُ ﻳَﻤْﻨَﻌُﻮﻧَﺎ ﺣَﻘَّﻨَﺎ ﻭَﻳَﺴْﺄَﻟُﻮﻧَﺎ ﺣَﻘَّﻬُﻢ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﺳْﻤَﻌُﻮﺍ ﻭَﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍ ﻓَﺈِﻧَّﻤَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻣَﺎ ﺣُﻤِّﻠُﻮﺍ ﻭَﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻣَﺎ ﺣُﻤِّﻠْﺘُﻢْ

Aku mendengar seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw, Apa pendapatmu jika para pemimpin kami tidak memenuhi hak kami (sebagai rakyat), namun tetap meminta hak mereka (sebagai pemimpin)? maka Rasulullah Saw menjawab, dengar dan taati (pemimpin kalian), karena sesungguhnya dosa mereka adalah tanggungan mereka, dan dosa kalian adalah tanggungan kalian (HR.Muslim dan at-Tirmidzi)

al-Imam Abu Ja'far at-Thahawi dalam Matan Aqidah at-Thahawiyah berkata:
 ﻭﻻ ﻧﺮﻯ ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ ﻋﻠﻰ ﺃﺋﻤﺘﻨﺎ ﻭﻭﻻﺓ ﺃُﻣﻮﺭﻧﺎ ، ﻭﺇﻥ ﺟﺎﺭﻭﺍ ، ﻭﻻ ﻧﺪﻋﻮﺍ ﻋﻠﻴﻬﻢ ، ﻭﻻ ﻧﻨﺰﻉ ﻳﺪﺍً ﻣﻦ ﻃﺎﻋﺘﻬﻢ ﻭﻧﺮﻯ ﻃﺎﻋﺘﻬﻢ ﻣﻦ ﻃﺎﻋﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻓﺮﻳﻀﺔً ، ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﺄﻣﺮﻭﺍ ﺑﻤﻌﺼﻴﺔٍ ، ﻭﻧﺪﻋﻮﺍ ﻟﻬﻢ ﺑﺎﻟﺼﻼﺡ ﻭﺍﻟﻤﻌﺎﻓﺎﺓ

Kami tidak memandang bolehnya memberontak kepada pemimpin dan pemerintah kami, walaupun mereka berbuat dzalim. kami tidak mendoakan kejelekan kepada mereka. kami tidak melepaskan diri dari ketaatan kepada mereka dan kami memandang ketaatan kepada mereka adalah ketaatan kepada Allah sebagai  suatu kewajiban, selama yang mereka perintahkan itu bukan kemaksiatan (kepada Allah). kami mendoakan mereka dengan kebaikan dan keselamatan.

Syaikhul Islam al-Imam an-Nawawi ulama besar Syafi'iyah berkata:
 ﻭﺃﺟﻤﻊ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﻨﻌﺰﻝ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﺑﺎﻟﻔﺴﻖ ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ﻓﻲ ﻛﺘﺐ ﺍﻟﻔﻘﻪ ﻟﺒﻌﺾ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﺃﻧﻪ ﻳﻨﻌﺰﻝ ﻭﺣﻜﻰ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻌﺘﺰﻟﺔ ﺃﻳﻀﺎ ﻓﻐﻠﻂ ﻣﻦ ﻗﺎﺋﻠﻪ ﻣﺨﺎﻟﻒ ﻟﻺﺟﻤﺎﻉ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺳﺒﺐ ﻋﺪﻡ ﺍﻧﻌﺰﺍﻟﻪ ﻭﺗﺤﺮﻳﻢ ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺎ ﻳﺘﺮﺗﺐ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺍﻟﻔﺘﻦ ﻭﺍﺭﺍﻗﺔ ﺍﻟﺪﻣﺎﺀ ﻭﻓﺴﺎﺩ ﺫﺍﺕ ﺍﻟﺒﻴﻦ ﻓﺘﻜﻮﻥ ﺍﻟﻤﻔﺴﺪﺓ ﻓﻲ ﻋﺰﻟﻪ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻨﻬﺎ ﻓﻲ ﺑﻘﺎﺋﻪ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﻋﻴﺎﺽ ﺃﺟﻤﻊ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻹﻣﺎﻣﺔ ﻻ ﺗﻨﻌﻘﺪ ﻟﻜﺎﻓﺮ ﻭﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻟﻮ ﻃﺮﺃ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﺍﻧﻌﺰﻝ

Ahlussunnah telah sepakat bahwa seorang sulthan (penguasa) tidak boleh dilengserkan karena kefasikan yang ia lakukan. adapun pendapat yang telah dalam kitab-kitab fiqih yang ditulis okeh sebagian sahabat kami (Syafi'iyah) bahwapenguasa yang fasiq harus dilengserkan, pendapa ini dinukil dari kaum Mu'tazilah, maka telah salah besar. orang yang berpendapat demikian menyelisihi ijma'. Dan ulama menjelaskan sebab tidak bolehnya penguasa dzalim dilengserkan dan haramnya memberontak kepadanya karena akibat daqi hal itu akan muncul berbagai macam fitnah (kekacauan), pertumpahan darah dan rusaknya hubungan, sehingga kerusakan dalam pencopotan penguasa dzalim lebih banyak dibanding tetapnya ia sebagai penguasa. al-Qodhi Iyadh berkata, ukama sepakat bahwa kepemimpinan tidak sah bagi orang kafir, dan jika seorang pemimpin menjadi kafir, maka harus dicopot (Syarh Muslim 12/229)

Pernyataan senada juga dikeluarkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar:
 ﻭﻗﺪ ﺃﺟﻤﻊ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻮﺏ ﻃﺎﻋﺔ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﺍﻟﻤﺘﻐﻠﺐ ﻭﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻣﻌﻪ ﻭﺃﻥ ﻃﺎﻋﺘﻪ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ ﻋﻠﻴﻪ ﻟﻤﺎ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺣﻘﻦ ﺍﻟﺪﻣﺎﺀ ﻭﺗﺴﻜﻴﻦ ﺍﻟﺪﻫﻤﺎﺀ
Dan para fuqaha' telah sepakat atas wajibnya taat kepada penguasa yang sedang berkuasa, berjihad bersamanya dan mereka juga sepakat bahwa taat kepadanya (pemimpin) lebih baik daripada memberontak, sebab dengan ketaatan itu darah menjadi terpelihara dan membuat banyak orang merasa nyaman. (Fath al-Bari 13/7)

 Bagaimana jika menurut mereka pemimpin tadi memang telah melakukan penyelewengan?
SyaikhAbdul Qadir Audah dalam kitab al-Tasyri' al-Jina'i berkata:

ومع ان العدالة شرط من شروط الامامة الا ان الرأيالراجح في المذاهب الاربعةومذهب الشيعة الزيدية هو تحريم الخروج على الامام الفاسق الفاجر ولو كان الخروج للامر بالمعروف والنهي عن المنكر لان الخروج على الامام يؤدي عادة الى ماهو انكر مما فيه وبهذا يمتنع النهي عن المنكر لان مشروطه لايؤدي الانكار الى ماهو انكر من ذلك الى الفتن وسفك الدماء وبث الفساد واضطراب البلاد واضلال العباد وتوهين الامن وهدم النظام

Memang sikap adil merupakan salah satu syarat-syarat menjadi Imam/pemimpin, hanya saja pendapat yang  rajih (unggul) dalam kalangan madzhab empat dan madzhab Syiah Zaidiyyah mengharamkan bertindak  khuruj (bughat) terhadap Imam yang fasik lagi curang walaupun bughat itu dengan dalih AMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR. Karena bughat kepada Imam biasanya akan mendatangkan suatu keadaan yang lebih mungkar daripada keadaan sekarang. Dan sebab alasan inilah, maka tidak diperbolehkan mencegah kemungkaran, karena persyaratan mencegah kemungkaran harus tidak mendatangkan fitnah, pembunuhan, meluasnya kerusakan, kekacauan  negara, tersesatnya rakyat, lemah keamanan dan rusaknya stabilitas nasional (Negara).

تعتبر القوانين والقرارات واللوائح مملكة التشريع الإسلام لأن الشريعة تعطي لأولي الأمر حق التشريع فيما يمس مصلحة الأفراد ومصلحةالجماعة بالنفع فللسلطة التشريعية في أي بلد الإسلامي إن تعاقب علىأي فعل مباحإذا اقتضت المصلحة العامة ذلك --- إلى أن قال --- القوانين والقرارات واللوائح التي تصدها السلطة التشريعية تكون نافذة واجبة الطاعة شرعا بشرط أن لا يكون فيها يخالف نصوص الشريعة الصريحة أو يخرج على مبادئها العامة وروح التشريع فيها وإلا فهي باطلة بطلانا مطلقا. اهـ.

Undang-undang keputusan dan program pemerintah dianggap sebagai program penyempurna syariat Islam karena syariat memberikan hak kepada pemerintah untuk membuat undang-undang yang menyentuh kemaslahatan dan memberikan manfaat kepada individu dan kelompok. Kekuasaan perundang-undang dalam negeri Islam manapun diperbolehkan untuk memberikan sanksi hukum terhadap perbuatan mubah (yang dilakukan masyarakat), ketika kemaslahatan umum menuntut demikian..undang-undang keputusan dan program yang dikeluarkan kekuasaan perundangan merupakan hal berlaku dan wajib ditaati secara syar'i dengan syarat tidak bertentangan dengan nash-nash yang jelas, prinsip-prinsip umum dan subtansi syariat, apabila bertentangan dengan hal-hal yang disebutkan terakhir, maka undang-undang keputusan dan program pemerintah tersebut batal.

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : NU | GP. ANSOR | PP Muslimat NU
Copyright © 2011. LESBUMI NU TARAKAN - All Rights Reserved
Dukungan MUI dan Kota Tarakan
Proudly powered by Blogger
}); //]]>