Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post

Habib Munzir Almusawa gak sepakat umat islam demo

Written By Unknown on Rabu, 31 Oktober 2018 | 08.38





Habib Munzir Almusawa semasa hidupnya pernah menyampaikan:

“Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah. Sebelum saya akhiri majelis ini dengan munajat, saya ingin menyampaikan tentang semakin semaraknya perpecahan antara muslimin. Di sini kita mendapatkan perintah dari Guru Mulia kita al-Hafidz al-Musnid al-Habib Umar bin Hafidz, untuk tidak melibatkan diri dalam demo. Apakah demo damai atau demo anarkis, beliau mengatakan semua demo damai atau anarkis sama saja dan jangan dilakukan, karena itu akan memanaskan daripada perpecahan muslimin. Jadi mereka yang berdemo silakan saja, tapi Majelis Rasulullah Saw. mau menghindari.

Seruan beliau (Habib Umar) disampaikan untuk para ulama dan para kyai, seraya berkata: “Sampaikan pada kyai-kyai kita dan para ulama kita dan semua orang-orang yang mengenalku, katakan bahwa Umar mengatakan hal ini, untuk menarik diri, “la yatada’ul biha lil-amr” mundur dari segala acara seperti itu. Tugas kita adalah “ittaqullah wa da’wah ilallah la ghaira dzalik” tugas kita adalah taqwa kepada Allah dan memperluas dakwah Allah Swt., tidak lebih dari itu dari gerakan-gerakan muslimin.

Demikian intruksi langsung dari beliau. Oleh sebab itu saya mohon hadirin-hadirat menahan diri untuk berangkat, acara apapun mengatasnamakan demo atau unjuk rasa. Jadi mereka yang akan berangkat saya harap jangan pakai atribut Majelis Rasulullah Saw., jangan sampai terlihat ada bendera Majelis Rasulullah Saw. (Al-Habib Mundzir Almusawa, Pimpinan Majelis Rasulullah Saw.)


Sumber: Luqman Firmansyah

Arab Saudi Bantai Para Dzurriyah Nabi di San'a Yaman


Ketua Forum Tasawwuf Islam (Multaqa al-Tasawwuf al-Islami) Yaman Habib Adnan al-Junaid mengutuk kejahatan yang dilakukan oleh pasukan antek Arab Saudi terhadap penduduk, termasuk kalangan dzurriyah (keturunan) Rasulullah saw di kawasan al-Sarari, provinsi Taiz, Yaman.
“Hari ini puluhan habaib dzurriyah Nabi saw terbunuh dan terbakar di dalam rumah-rumah mereka, sementara kaum perempuan dan anak-anak kecil mereka ditawan di desa al-Sarari di Taiz…. Orang-orang yang terhubung dengan Bani Umayyah bersuka ria atas kejadian ini sebagaimana para pendahulu mereka bersuka ria atas terbunuhnya Imam Husain dan para sahabatnya, terbakarnya perkemahan beliau, dan tertawannya kaum perempuan Ahlul Bait di Karbala. Demikian sejarah terulang lagi,” ungkap Syeikh Junaid dalam sebuah suratnya, seperti dilansir al-Alam ,Rabu (27/7/2016).
Dia melanjutkan, “Al-Sarari diserang kemarin malam dan hari ini. Mereka menebar kejahatan, membakari semua rumah, dan mencokok kaum pria yang tersisa, tak terkecuali korban luka. Di antara yang ditawan adalah keluarga paman kami serta Allamah Muhammad Abdul Aziz al-Junaid dan lain-lain.”
Habib Adnan al-Junaid menjelaskan bahwa para ekstrimis Wahhabi “membakari semua rumah keluarga besar al-Junaid di desa-desa sekitar al-Sarari, meringkus anak-anak kecil dan menawan kaum pria yang tersisa.”
Al-Alam menyebutkan bahwa pasukan antek Saudi di Yaman telah melakukan pembantaian massal secara sadis terhadap sekitar 50 warga sipil, termasuk anak kecil dan kaum perempua, di kawasan al-Sarari. Mereka ada yang dibakar hidup-hidup, dan ada pula yang disembelih.
Tak hanya itu , mereka juga membongkar makam Syeikh Jamaluddin, salah satu tokoh sufi, dan membakar kerangka yang ada di dalamnya, serta menculik puluhan penduduk sehingga ada kekhawatiran mereka juga akan dieksekusi.
Aksi sadis ini mengundang kemarahan dan kecaman dari masyarakat dan partai-partai di Yaman. Peristiwa ini terjadi tak lama setelah tentara Yaman dan pasukan rakyat yang tergabung dalam komite-komite rakyat Yaman berhasil memenangi pertempuran melawan pasukan Saudi di Najran di wilayah perbatasan Yaman-Saudi.
Ikatan Ulama Yaman (Rabithah Ulama al-Yaman) dalam surat pernyataannya menyerukan kepada masyarakat dan lembaga-lembaga kemanusiaan dunia, terutama Dewan Keamanan PBB supaya “menunaikan tanggungjawab mereka di depan aksi pembantaian yang dilakukan kubu agresor dan para anteknya di desa al-Sarari, Taiz, dan semua wilayah Yaman.”
Ikatan Ulama Yaman juga menyerukan kepada semua anak bangsa Yaman supaya “bersatu dan merapatkan barisan untuk melawan para agresor yang tergabung dalam pasukan koalisi (pimpinan Arab Saudi) dan orang-orang yang berada di belakang dan bersama mereka.”
Gerakan Ansarullah (Houthi) Yaman juga mengutuk keras pembantaian itu dan menyebutnya sebagai kekejaman yang “menambah keburukan citra pasukan agresor dan para anteknya.” Ansarullah meminta PBB dan lembaga-lembaga kemanusiaan supaya menunaikan kewajiban dan tanggungjawabnya atas apa yang terjadi di al-Sarari.
Media Yaman menyebutkan bahwa sebanyak lebih dari 50 ormas di negara ini telah menyatakan kutukan mereka atas aksi pembantaian di al-Sarari dan menegaskan bahwa Arab Saudi bertanggungjawab atas tragedi ini.
Sumber ; Liputanislam.com

INDONESIA NEGARA KE-21 YG MENOLAK HTI


Berikut negara-negara yang melarang Hizbut Tahrir:
1. Mesir
Dibubarkan: 1974
Alasan: Terlibat upaya kudeta
2. Suriah
Dibubarkan: 1998
Alasan: Dilarang melalui jalur ekstra yudisial
3. Turki
Dibubarkan: 2004
Alasan: Organisasi teroris
4. Rusia
Dibubarkan: 2003
Alasan: Organisasi teroris
5. Jerman
Dibubarkan: 2003
Alasan: Penyebar propraganda kekerasan dan anti semit Yahudi
6. Malaysia
Dibubarkan: 2015
Alasan: Dianggap kelompok menyimpang
7. Yordania
Dibubarkan: 1953
Alasan: Mengancam kedaulatan negara
8. Arab Saudi
Dibubarkan: Era Abdulaziz
Alasan: Ancaman negara
9. Libya
Dibubarkan: Era Moamar Khadafi
Alasan: Organisasi yang menimbulkan keresahan
10. Pakistan
Dibubarkan: 2016
Alasan: Dianggap ancaman negara
11. Uzbekistan
Dibubarkan: 1999
Alasan: Menjadi dalang pengeboman di Tashkent
12. Kirgistan
Dibubarkan: 2004
Alasan: Kelompok ekstrem
13. Tajikistan
Dibubarkan: 2005
Alasan: Terlibat aktivitas terorisme
14. Kazakhstan
Dibubarkan: 2005
Alasan: Terlibat terorisme
15. China
Dibubarkan: 2006
Alasan: Melakukan kegiatan teror
16. Bangladesh
Dibubarkan: 2009
Alasan: Terlibat aktivitas militan dan mengancam kedamaian
17. Perancis
Dibubarkan: -
Alasan: Organisasi ilegal
18. Spanyol
Dibubarkan: 2008
Alasan: Organisasi ilegal
19. Tajikistan
Dibubarkan: 2001
Alasan: Sejumlah anggotanya dipenjara
20. Tunisia
Dibubarkan: -
Alasan: Merusak ketertiban umum
21. Indonesia
Dibubarkan: 2017
Alasan: Bertentangan dengan Pancasila dan konstitusi, mengancam ketertiban masyarakat, dan membahayakan keutuhan negara
KINI saatnya warga indonesia harus sadar bahwa ormas yang mengacam kesatuan Negara kita karena NKRI sejatinya warisan para ulama kita mari kita sama sama mencintai negara kita dengan cara mempertahankan idiologi pancasila .

filosofi Sang wanita

Written By Unknown on Selasa, 30 Oktober 2018 | 14.35





اَلْأُنْثَى كَالْقَهْوَةِ، إِذَا أَهْمَلْتَهَا أَصْبَحَتْ بَارِدَةً، حَتَّى فِيْ مَشَاعِرِهَا
Wanita itu seperti kopi, jika engkau abaikan, ia menjadi dingin, sampai dalam hal cita rasanya.

عِنْدَمَا تَصْمُتُ الْأُنْثَى أَمَامَ مَنْ تُحِبُّ، تَأْتِي الْكَلِمَاتُ عَلَى هَيْئَةِ دُمُوْع

Saat wanita diam didepan orang yang ia cintai, maka muncullah banyak kata dalam bentuk air mata!!

اَلْأُنْثَى فِي الْبِدَايَةِ تَخَافُ أَنْ تَقْتَرِبَ مِنْكَ، وَفِي النِّهَايَةِ تَبْكِيْ حِيْنَ تَبْتَعِدُ عَنْهَا، قَلِيْلٌ مَنْ يَفْهَمُهَا

Wanita itu, pada mulanya takut untuk mendekatimu, namun pada akhirnya, ia menangis saat engkau menjauh darinya, sedikit sekali orang yang bisa memahaminya

.اَلْأُنْثَى لَا تُرِيْدَ مِنْكَ الْمُسْتَحِيْلَ، هِيَ فَقَطْ تُرِيْدُكَ أَنْ تَكُوْنَ مِثْلَ الرَّجُلِ الَّذِيْ تَتَمَنَّاهُ أَنْتَ لِشَقِيْقَتِك

Wanita itu tidak menginginkan kemustahilan darimu, dia hanya menginginkan agar engkau seperti lelaki yang engkau bayangkan seperti saudari kandungnya.

اَلْأُنْثَى إِمَّا كَيْدٌ عَظِيْمٌ، أَوْ حُبٌّ عَظِيْمٌ! وَأَنْتَ مَنْ يُحَدِّدُ أَيُّهَا الرَّجُلَ، فَإِنْ مَكَرْتَ بِهَا مَكَرَتْ بِكَ، وَإِنْ أَحْبَبْتَهَا عَشِقَتْك

Wanita itu tipu daya besar atau cinta agung, dan engkaulah yang menentukannya wahai lelaki, jika engkau membuat makar kepadanya, diapun membuat makar kepadamu, dan jika engkau mencintainya, iapun kasmaran kepadamu

بِقَدْرِ مَا تُحِبُّ الْأُنْثَى هِيَ تَغَارُ، لِذَا أَيُّ أُنْثَى تَجُنُّ غِيْرَةً، هِيَ تَجُنُّ حُبًّا

Sesuai dengan tingkat cintamu kepada wanita, seperti itulah ia cemburu, karenanya, apa saja yang membuat wanita menjadi gila karena cemburu, itu juga yang membuatnya gila karena cinta

اَلْأُنْثَى تُدَاوِيْ وَهِيَ مَحْمُوْمَةٌ، وَتُوَاسِيْ وَهِيَ مَهْمُوْمَةٌ، وَتَسْهَرُ وَهِيَ مُتْعَبَةٌ، وَتَحْزَنُ مَعَ مَنْ لَا تَعْرِف

Wanita itu mengobati, padahal dia sedang demam, membantu, padahal dia susah, begadang, padahal lelah, dan berduka terhadap seseorang yang tidak dikenalnya

اَلْأُنْثَى : تُحِبُّ أَنْ تُعَامََ كَطِفْلَةٍ دَائِماً مَهْمَا كبرتْ

Wanita itu selalu ingin diperlakukan seperti bocah kecil,betapapun ia menua

لَا تَطْرُقْ بَابَ قَلْبِ الْأُنْثَى، وَأَنْتَ لَا تَحْمِلُ مَعَكَ حَقَائِبَ الِاهْتِمَام

Jangan berani-berani mengetuk pintu hati wanita jika engkau tidak membawa berkoper-koper perhatian

عِنْدَمَا تَغَارُ الْأُنْثَى اُرْسُمْ قُبْلَةً عَلَى يَدَيْهَا، دَعْهَا تَشْعُرُ بِأَنَّها نِعْمَةٌ مِنَ اللهِ لَدَيْك

Saat wanita cemburu, buatlah lukisan ciumanmu pada kedua tangannya, biarkan dia merasakan bahwa dia merupakan kenikmatan Allah SWT yang sangat besar bagimu

اَلْأُنْثَى اَلْهَادِئَةُ، اَلنَّاعِمَةُ، أكْثَرُ ضَجِيْجًا بِقَلْبِ الرَّجُل

Wanita yang tenang, nan lembut, ternyata pembuat kebisingan terbesar pada hati lelaki

اَلْأُنْثَى وَإِنْ قَسَتْ؛ فَإِنَّهَا لَا تَخْلُوْ مِنْ مَشَاعِرِ الْعَطْفِ، وَالرَّأْفَة

Wanita itu, walaupun keras hati, sebenarnya tidak pernah kosong dari rasa simpati dan kasih sayang

لَا يَحْتَمِلُ جُنُوْنَ الْأُنْثَى وَغِيْرَتَهَا، إِلَّا رَجُلٌ أَحَبَّهَا بِصِدْق

Tidak ada yang mampu menanggung kegilaan wanita dan kecemburuannya, kecuali lelaki yang mencintainya dengan sebenarnya

لَيْسَ عيَباً أنَ يَتَعَلَّمَ الرَّجُلُ مِنْ قَلْبِ الْأُنْثَى شَيْئا يَجْعَلُهُ أكَثرَ إِنْسَانِيَّةً وَرِقَّة

Tiada aib jika lelaki mau belajar dari hati wanita sesuatu yang menjadikannya semakin manusiawi dan semakin lembut

اَلْأنثىْ تَخشىْ الخيانْة ، وَالفقدانْ ، وَالغيابْ ، ولا تسَتطيع بسهولة نسيانْ غائبْ أحَبته ، تظل تراقِبه منْ بعد

Wanita itu takut dikhianati, takut kehilangan, takut tiada, dan tidak mudah melupakan seorang yang tiada yang dicintainya, ia terus menerus mengawasinya dari jauh

للأنثى أن تربي طفلاً بلا أب ، لكن لا يمكن للرجل أن يربي طفلاً بلا أمهنا روعه الأنثى

Mungkin wanita mengasuh anak tanpa seorang ayah, tetapi, tidak mungkin lelaki mengasuh anak tanpa ibu. Disinilah terletak keindahan wanita

مَتى مآ كُنت 'رجُل' تكُن لك امرأة
ikalau kamu benar-benar lelaki, pasti punya wanita

مَتى مآ كُنت 'ذكَر' تكُن لك أنثى

Jikalau engkau jantan, pasti punya betina

مَتى مآ كُنت 'ملِك' تكُن لك أميرة

Kapan engkau menjadi raja, pasti ada ratu

مَتى مآ كُنت 'عاشِق' تكُن لك متيمة

Kapan engkau kasmaran, pasti wanita itu seperti seorang yang kehilangan anak

فلا تكُن 'لاشيء' وتُريدهآ أن تكون كل شيء

Jangan sampai engkau tanpa apa-apa sementara engkau menginginkan wanita segala-galanya

عندمآ تُنفخ فيك الروح تكون في بطن امرأة
ngatlah, saat ruh ditiupkan kepadamu, engkau ada di rahim wanita

عندما تبكي، تكون في حضن امرأة

Saat engkau menangis, engkau ada dipangkuan wanita

وعندما تعشق، تكون في قلب امرأة

Saat engkau kasmaran, engkau ada dihati wanita

رفقاً بهآ .. فالاُنثى أمانة ،، مآ خُلِقَت لﻹهانة

Karenanya, perlakukan wanita dengan penuh kelembutan. wanita itu dicipta sebagai amanah, bukan dicipta untuk dihina

فلتحيا كل أنثي ... متزوجة ، أو عازبة ، أو مطلقة ، أو كانتّ أرملة

Maka..hidup wanita!! adakah ia bersuami, atau gadis, atau janda cerai, ataupun janda mati.

MASJID ATAU BENDERA DHIROR BOLEH DIBAKAR (QS. At-Taubah : 108) Asbabun Nuzul QS. At-Taubah: 108








Di tulis ustadz Asimun Mas'ud 
20-10-2018
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra sehubungan dengan ayat ini, bahwa mereka adalah sejumlah orang dari kalangan orang-orang Ansar yang membangun sebuah masjid baru. Sebelum itu Abu Amir berkata kepada mereka, “Bangunlah sebuah masjid, dan buatlah persiapan semampu kalian untuk menghimpun senjata dan kekuatan, sesungguhnya aku akan berangkat menuju ke Kaisar Romawi untuk meminta bantuan. Aku akan mendatangkan bala tentara dari kerajaan Romawi untuk mengusir Muhammad dan sahabat-sahabatnya dari Madinah.” Setelah mereka selesai membangunnya, maka menghadaplah mereka kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, “Sesungguhnya kami baru selesai membangun sebuah masjid. Maka kami suka bila engkau melakukan shalat di dalamnya dan mendoakan keberkatan buat kami.”
Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan firman-Nya, "Janganlah kamu shalat di dalam masjid itu untuk selama-lamanya, (QS. At-Taubah: 108) sampai dengan firman-Nya: kepada orang-orang yang zalim. (At-Taubah: 109)
Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus orang-orang ke Masjid Dhirar itu untuk merobohkan dan membakarnya sebelum beliau tiba di Madinah.
*Hukum Membakar Bendera*
Ulama Syafiiyah menghukumi makruh menulis kalimat Al-Quran, kalimat tauhid dan lainnya pada benda yang sekiranya sulit menjaga kemulian alimat-kalimat tersebut. Misalnya, menulis nama Allah pada bendera, undangan, baju, topi, dan lainnya. Bahkan ulama Malikiyah berpendapat haram karena akan menyebabkan kalimat-kalimat tersebut diremehkan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Kuwaitiyah berikut;
ذهب الشافعية وبعض الحنفية إلى كراهة نقش الحيطان بالقرآن مخافة السقوط تحت أقدام الناس ، ويرى المالكية حرمة نقش القرآن واسم الله تعالى على الحيطان لتأديته إلى الامتهان
“Ulam Syafiiyah dan sebagian ulama Hanafiyah berpendapat terhadap kemakruhan mengukir (menulis) dinding dengan Al-Quran karena dikhawatirkan jatuh di bawah kaki manusia. Sedangkan ulama Malikiyah berpandangan bahwa haram menulis Al-Quran dan nama Allah di atas dinding karena akan menyebabkan nantinya disepelekan.”
Apabila terlanjur ditulis pada benda tersebut, maka para ulama menyarankan dua tindakan untuk menjaga dan memuliakan kalimat-kalimat tersebut. Pertama, kalimat-kalimat tersebut dihapus dengan air atau lainnya. Kedua, benda tersebut dibakar dengan api.
*Dalam kitab Tuhfatul Muhtaj disebutkan;*
والغسل أولى منه أي إذا تيسر ولم يخش وقوع الغسالة على الارض وإلا فالتحريق أولى بجيرمي عبارة البصري قال الشيخ عز الدين وطريقه أن يغسله بالماء أو يحرقه بالنار قال بعضهم إن الاحراق أولى لان الغسالة قد تقع على الارض
“Membasuh lebih utama dibanding membakarnya. Ini jika mudah dan tidak dikhawatirkan airnya jatuh ke tanah. Jika sebaliknya, maka membakarnya lebih utama, (Bujairimi dengan ibarat Al-Bashri). Syaikh Izzuddin mengatakan, caranya ialah membasuhnya dengan air atau membakarnya dengan api. Sebagian ulama mengatakan, membakarnya lebih utama karena membasuh dengan air akan jatuh ke tanah.”
Dengan demikian, membakar benda yang bertuliskan kalimat tauhid seperti bendera dan lainnya hukumnya boleh bahkan wajib jika bertujuan menjaga kehormatan dan kemulian kalimat tauhid tersebut. Walkahu a'lam
 semoga bermanfaat. Aamii

BENARKAH BENDERA DAN PANJI RASULULLAH SAW BERTULISKAN KALIMAT TAUHID






Penulis ustadz Asimun Ibnu Mas'ud

BENARKAH BENDERA DAN PANJI RASULULLAH SAW BERTULISKAN KALIMAT TAUHID?

Hati-hati bendera thaghut, teroris dan kaum bughot sering pakai simbol ayat dan agama untuk tujuan makar, kerusakan, kebatilan dan kekerasan ...
Terkait bendera dan panji Rasulullah, Imam At-Tirmidzi dan Imam Ibn Majah telah mengeluarkan dari Ibn Abbas, ia berkata,
كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ، وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ
“Rayah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam dan Liwa beliau berwarna putih.”
Imam An-Nasai di Sunan al-Kubra, dan at-Tirmidzi telah mengeluarkan dari Jabir,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «دَخَلَ مَكَّةَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ
“Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke Mekah dan Liwa’ beliau berwarna putih.”
Ibn Abi Syaibah di Mushannaf-nya mengeluarkan dari ‘Amrah ia berkata,
كَانَ لِوَاءُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْيَضَ
“Liwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna putih.”
Saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi panglima militer di Khaibar, beliau bersabda,
لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ أَوْلَيَأْخُذَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ أَوْ قَالَ يُحِبُّ الله َوَرَسُولَهُ يَفْتَحُ اللهُ عَلَيْهِ فَإِذَا نَحْنُ بِعَلِيٍّ وَمَا نَرْجُوهُ فَقَالُوا هَذَا عَلِيٌّ فَأَعْطَاهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّايَةَ فَفَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ
“‘Sungguh besok aku akan menyerahkan ar-râyah atau ar-râyah itu akan diterima oleh seorang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya atau seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan mengalahkan (musuh) dengan dia.’. Tiba-tiba kami melihat Ali, sementara kami semua mengharapkan dia. Mereka berkata, ‘Ini Ali.’. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan ar-rayah itu kepada Ali. Kemudian Allah mengalahkan (musuh) dengan dia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
قال ابن القيم في زاد المعاد: (وكانت له راية سوداء يقال لها: العُقاب، وفي سنن أبي داود عن رجل من الصحابة قال: رأيتُ راية رسول اللّه صلى الله عليه وسلم صفراء، وكانت له ألوية بيضاء
Menurut Ibnu al-Qayyim al-Jawziyah dalam Zadul Ma'ad: Rayah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berwarna hitam disebut Sang Elang (berbentuk seperti burung elang tanpa tulisan apapun).
Dalam Sunan Abu Daud, ada hadits menyebut "Saya melihat bendera Rasulullah berwarna kuning yg dihiasi warna putih.
أن النبي دخل مكة يوم الفتح ولواؤه ابيض .رواه ابن ماجة من طريق جابر .
Diriwayatkan Ibnu Majah Liwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam waktu Fathu Makkah berwarna putih (tanpa tulisan apa-apa).
Menurut Imam as-Sarakhsi, Imam Mazhab Hanafi, dalam kitabnya asy-Syarh al-Kabir, tentang warna rayah atau liwa, *BOLEH BAWA BENDERA WARNA APA SAJA*
يُستحبُّ أن تحمل الألويةُ اللونَ الأبيض والراياتُ اللونَ الأسود ويجوز غيرها من الألوان
وأول لواء عُقد في الإسلام لواء عبد الله بن جحش، وعُقِد لسعد بن مالك الأزدي راية سوداء فيها هلال أبيض.
Bendera atau liwa pertama di masa Islam dalam Perang Badar era Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah *bendera hitam di tengahnya tergambar bulan sabit berwarna putih* (Kitab al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah)
Simbol kenegaraan (rayah atau liwa) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pas di Madinah adalah *SANG ELANG ('UQAB).* Ini banyak hadits nyebut itu. Sebagaimana hadits berikut,
عن أبي هريرة قال: “كانت راية النبي صلى الله عليه وسلم قطعة قطيفة سوداء كانت لعائشة وكان لواؤه أبيض، وكان يحملها سعد بن عبادة ثم يركزها في الأنصار في بني عبد الأشهل وهي الراية التي دخل بها خالد بن الوليد ثنية دمشق وكان اسم الراية العقاب فسمت ثنية العقاب”. أخرجه ابن عدي في الكامل وابن عساكر في تاريخه,
“Dari Abu Hurairah ra. “Rayah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berupa qith’ah qathifah (sepotong kain mantel) warna hitam yang miliki Aisyah ra. Dan Liwa’ beliau berwarna putih. Mulanya Rayah itu dibawa oleh Sa’d bin Ubadah, lalu ditancapkan di kalangan Anshor Bani Asyhal; itulah rooyah yang dibawa masuk Kholid bin Al-Walid ke dataran Damaskus. Rooyah tersebut diberi nama Al-Iqaab. Sehingga dataran Damaskus dinamai sebagai Tsaniyah Al-Iqaab”. (HR. Ibnu Ady dalam Al-Kamil dan Ibnu Asakir dalam kitab At-Tarikh).
راية من الحرير الأخضر صنعها العثمانيون، مكونة من قطع من راية الرسول الأصلية، التي استخدمها في فتح خيبر وهي التي سلمها لسيدنا علي بن أبي طالب. الراية نقش عليها العثمانيون آيات من القرآن وأسماء العشرة المبشرين بالجنة ومطرزة بخيوط من الفضة على الأجزاء الحمراء من النقوش.
"Rayah (panji-panji Rasul) terbuat dari sutra hijau yg dibuat oleh Turki Utsmani dari potongan-potongan asli panji-panji Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yg dipakai waktu Perang Khaibar. Yang kemudian diserahkan kepada sayyidina Ali bin Abi Thalib ra
Panji-panji tersebut kemudian diperindah oleh Turki dengan ayat Al-Qur'an *(Nashrun minallah wa fathun qarib wa basysyiril mu'minin).* dan sepuluh nama-nama yg diberikan kabar gembira dengan surga yg disulam dengan benang perak di bagian merah prasasti."
*(Kini panji-panji tersebut tersimpan di Museum Topkapi Istanbul, Turki).*
Yang masih mau dikadalin soal rayah dan liwa Rasulullah dari bendera eks-ormas terlarang alias HTI yg bertuliskan *KALIMAH TAUHID* perlu banyak banyak memang baca buku sejarah.
Lalu Ulama Nusantara bangun Jumhuriyah Indonesia 1290 H dengan simbol *GARUDA.* Wallahu a'lam
semoga bermanfaat. Aamiin
*والله الموفق الى اقوم الطريق*

KH Didin Sirojuddin AR menangapi bendera tauhid


Jakarta, NU Online: Sabtu, 27 Oktober 2018 20:27

Maestro Kaligrafi Indonesia KH Didin Sirojuddin AR menyampaikan pandangannya perihal bendera yang selama ini diklaim sebagai bendera Islam karena bertulis lafal tauhid dari segi khat. Pengurus Lembaga Kaligrafi (Lemka) ini menggugat klaim bendera Islam selama ini oleh sekelompok masyarakat.
Didin yang kini mengasuh pesantren kaligrafi di Sukabumi ini menjelaskan perkembangan sejarah khat, seni tulis aksara Arab, dari Rasulullah SAW hingga khat yang dikenal masyarakat Islam sekarang ini.
Menurutnya, Rasulullah SAW tidak pernah mengibarkan bendera bertuliskan kaligrafi lafal tauhid. Rasulullah mengibarkan dan mengobarkan semangat tauhid.
“Yang dikibarkan dan dikobarkan Rasulullah adalah semangat dan kumandang tauhid, Lā ilāha illallāh, Muhammadun Rasūlullāh, bukan bendera berkaligrafi kalimat tauhid,” kata Didin yang malang melintang dalam kontes kaligrafi nasional sejak 1981 kepada NU Online, Sabtu (27/10) sore.
Ia menambahkan bahwa bendera tauhid sebagai bendera Rasulullah SAW adalah klaim oleh sekelompok orang. Ia mempersoalkan klaim tersebut dengan meminta bukti otentik dan akurat.
“Bendera tauhid sebagai bendera Rasulullah seperti banyak diperbincangkan waktu-waktu belakangan, tidaklah benar dan tanpa dasar yang akurat. Tidak pula dikuatkan fakta dokumenter yang ditinggalkan,” kata pendekar kaligrafi ini.
Menurutnya, bendera Rasulullah yang dipergunakan saat itu adalah kain polos tanpa tulisan apa pun. Dalam perang-perang bersama Khalid pun sampai zaman Umar, bendera tentara Islam masih polos. Bendera-bendera tentara itu hanya kain polos dengan warna-warna tertentu.
“Lantas dari mana kita tahu, bendera Rasulullah tidak berisi kaligrafi apa pun? Tulisan Arab di zaman Rasulullah masih sederhana dan hanya digunakan untuk menyalin teks wahyu di media kulit, pelepah kurma, batu, dan kayu yang tercecer di tempat-tempat wahyu diturunkan,” katanya.
Dunia tulis-menulis, ia menambahkan, belum mentradisi di zaman Rasulullah, kecuali di beberapa kalangan yang bisa dihitung dengan jari. Bahkan Rasulullah pernah memerintahkan untuk menghapus informasi apa pun selain Al-Qur'an yang datang dari dirinya karena dikhawatirkan tercampur Al-Qur'an dengan unsur kata-kata lain saat kitab suci dikodifikasi sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim.
Ia mengutip hadits riwayat Muslim yang terjemahannya, "Jangan tulis tentang diriku. Siapa menulis dariku selain Al-Qur'an, hendaknya dia menghapusnya kembali. Bicarakanlah tentang aku dan itu tidak mengapa. Tapi siapa berdusta atas namaku, maka silakan menduduki tempatnya di neraka," (HR Muslim).
Menurutnya, hadits ini menutup kemungkinan adanya tulisan atau lukisan kaligrafi di medium selain lembaran-lembaran Al-Qur'an yang tercecer. Selain Al-Qur’an, tulisan berisi kalimat thayibah hanya terdapat pada surat-surat Nabi Muhammad SAW kepada raja-raja seperti Heraklius, Kisra, Muqauqis, Harits Al-Ghassani, Harits Al-Himyari, dan Najasi sebagai stempel.
“Menasabkan bendera-bendera berkaligrafi khat Tsulus sempurna seperti bendera Arab Saudi, bendera HTI, dan lain-lain sebagai ‘bendera Rasulullah’ lebih tidak tepat lagi. Sebab, khat Tsulus belum lahir di masa Rasulullah. Tsulus lahir atas inisiatif Khalifah Muawiyah,” kata Didin.
Ia mengatakan bahwa yang mendekati pola khat Kufi pada zaman Nabi adalah kalimat tauhid pada bendera ISIS. Namun, tulisan tersebut di zaman Nabi hanya digunakan untuk menyalin mushaf Al-Qur'an, bukan pada bendera.
“Kalimat tauhid di bendera, apalagi jika ditulis dengan kaligrafi yang indah, sangat bagus. Tapi jangan diklaim sebagai bendera Rasulullah karena Nabi Muhammad SAW tidak pernah menggunakan bendera yang itu. Begitulah sejarah yang sebenarnya. Supaya kita tidak larut dan berlarut-larut dalam cerita yang dibikin-bikin alias bohong,” kata Didin yang juga pengajar pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (Alhafiz K)
 
Support : NU | GP. ANSOR | PP Muslimat NU
Copyright © 2011. LESBUMI NU TARAKAN - All Rights Reserved
Dukungan MUI dan Kota Tarakan
Proudly powered by Blogger
}); //]]>