Home » » TAQWA DAN MAKNA ‘KEMBALI KEPADA FITRAH ADAM MA'RIFAT’ DI BALIK SHAUM RAMADHAN DAN IDUL FITRI

TAQWA DAN MAKNA ‘KEMBALI KEPADA FITRAH ADAM MA'RIFAT’ DI BALIK SHAUM RAMADHAN DAN IDUL FITRI

Written By Unknown on Rabu, 04 Januari 2017 | 09.07

Oleh: K Ng H Agus Sunyoto
Sejak sore sampai malam ke-29 Ramadhan Pesantren Sufi digemparkan oleh sejumlah santri dari jauh yang mengalami aneka peristiwa aneh, yang justru tidak dialami para santri. Sore bakdal Asyar, Jauhari Sam’iyyah, dengan tergopoh-gopoh menghadap Guru Sufi. Dengan nafas tersengal-sengal, santri yang tinggal di tengah kota itu melapor bahwa beberapa waktu lalu – sewaktu takziah mengantar tetangga yang meninggal ke pemakaman – ia mendengarkan suara-suara dari dalam kubur. “Sewaktu di jalan masuk pekuburan saya mengucap salam, terdengar sahutan ramai dari dalam kubur, Mbah Kyai. Apakah itu ilusi atau halusinasi? Mohon pencerahan, Mbah Kyai!” kata Jauhari Sam’iyyah tegang.
Guru Sufi tidak menjawab. Sebaliknya, dengan isyarat tangan meminta Jauhari Sam’iyyah untuk berdzikir di mushola. Tanpa bicara Jauhari Sam’iyyah ke dalam mushola dan duduk bersila di saf depan.
Beberapa bentar kemudian, Haji Bashori al-‘Arif, pengusaha muda asal Kota S, tergesa-gesa menemui Guru Sufi, melaporkan pengalaman mencengangkan yang baru saja dialaminya, yaitu bakdal sholat dhuhur sewaktu ia sibuk mengantar zakat ke rumah janda-janda tua dan anak-anak yatim, ia mendapati peristiwa yang membuatnya sesak nafas. “Sewaktu mengantar sembako dan uang, saya tiba-tiba mendapati keadaan di sekitar saya berubah. Rumah, pagar halaman, pohon-pohon, batu-batu, rumput, pot bunga, dan segala sesuatu menjadi putih. Bahkan dari atas langit berjatuhan butiran-butiran kecil putih seperti salju. Keadaan siang yang panas pun tiba-tiba terasa sejuk. Apakah yang saya alami itu, Mbah Kyai?” tanya Haji Bashari al-‘Arif
Guru Sufi tidak menjawab. Sebaliknya, dengan isyarat tangan meminta Haji Bashori al-‘Arif untuk berdzikir di mushola.
Sampai tengah malam, santri-santri dari luar kota berdatangan untuk melaporkan pengalaman masing-masing yang aneh dan menegangkan. Setelah Mas Wardi Bashari mengungkapkan pengalamannya yang tiap malam di sisa Ramadhan itu selalu menyaksikan Lailatul Qadr, Guru Sufi dengan didampingi Sufi Sudrun, Sufi tua, Sufi Kenthir mengumpulkan semua santri untuk memberikan petunjuk dan arahan mengenai makna rahasia di balik Puasa Ramadhan dan Idul Fitri.
Dengan suara rendah Guru Sufi menjelaskan bahwa Puasa yang dalam bahasa Arab-nya adalah Shaum, secara kebahasaan bermakna imsak, yaitu menahan diri dari makan, minum, berbicara, nikah, dan berjalan, sementara secara istilah Shaum bermakna menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan dengan tata cara yang khusus. Puasa Ramadhan itu wajib hukumnya, sesuai Sabda Allah di dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al Baqarah : 183)
“Kalian ingat-ingat bahwa kunci dari perintah Shaum pada bulan Ramadhan adalah menjadikan manusia bertaqwa. Taqwa. Taqwa!” kata Guru Sufi menegaskan. Setelah diam sebentar, Guru Sufi melanjutkan,”Ketahuilah bahwa salah satu tanda orang yang sudah mencapai derajat taqwa (Muttaqin) adalah diperolehnya penyingkapan (kasyf) terhadap yang ghayb, yang akan meningkatkan derajat keimanannya (Q.S. al-Baqarah ; 2-3). Maksudnya, kualitas keimanan orang-orang yang bertaqwa (Muttaqin) lebih tinggi dibanding keimanan orang awam yang tingkat dan kadar keimanannya didasarkan kepada ‘kata orang’, menurut buku, dalil.”
“Maaf Mbah Kyai,” sahut Jauhari Sam’iyyah menukas,”Apakah yang tadi kami alami – mendengarkan suara-suara dari dalam kuburan, itu tanda-tanda ghayb?”
Guru Sufi mengangguk membenarkan.
“Maaf Mbah Kyai,” tukas Grangsang Thoma’in, santri yang sudah mondok tiga tahun, “Kenapa kami, para santri yang mukim di sini belum ada yang mengalami kasyaf, Mbah Kyai?”
Guru Sufi tidak menjawab. Sebaliknya, bertanya kepada Jauhari Sam’iyyah, “Pak Jauhari, selama puasa Ramadhan, sampeyan berbuka dan sahur dengan apa?”
“Berbuka dengan kurma tiga biji dan minum air putih. Saya sahur dengan nasi lauk ikan asin, minumnya air putih,” kata Jauhari Sam’iyyah.
“Sampeyan bagaimana berbuka dan sahurnya, Mas Grangsang?”
Sufi Kenthir ketawa ngakak sambil berseru,”Grangsang sama dengan santri yang lain Mbah Kyai. Takjilnya saja Kolak, Ketan Srikaya, Es Dawet, Kurma, Es Buah, Brownies, Pisang Molen, Semangka, Melon, Teh Manis, Aqua gelas, Kue Lapis, Bika Ambon, Es Manado, dan lain-lain. Habis menyantap takjil, dilanjut berbuka puasa melahap Nasi Briani, Nasi Bebek, Pecel Lele, Ayam Goreng, Nasi Uduk, Bakso, Roti Maryam, dan lain-lain. Bakdal tarawih masih ngopi, merokok, ngrumpi, makan pisang goreng, ote-ote, singkong keju, tahu kremes, tempe goreng, menjes, dan lain-lain.”
“Kalian yang berpuasa hanya mengubah jadual makan, bahkan berbuka dan sahurnya lebih rakus dari hari-hari biasa, tidak akan pernah mencapai derajat taqwa. Bahkan derajat Ihsan yang secara alamiah mengikuti orang yang berpuasa pun, kalian tidak akan memahaminya,” kata Guru Sufi menjelaskan.
“Kenapa bisa seperti itu, Mbah Kyai?” sergah Grangsang Thoma’in tidak puas.
“Ketahuilah oleh kalian semua,’ kata Guru Sufi menjelaskan,”Bahwa amaliah puasa dan istighfar dilakukan oleh leluhur kita, Nabi Adam AS beserta keturunannya. Kenapa Adam AS berpuasa dan beristighfar? Karena beliau menebus kesalahan, melanggar titah Allah: Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu di dalam surga ini, makanlah makanan-makanan yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, tetapi janganlah kamu dekati pohon ini, yang akan menjadi sebab kamu menjadi orang-orang yang zhalim.” (Q.S .Al Baqarah:35). Ternyata Adam AS tidak hanya mendekati pohon yang dilarang untuk didekati itu, melainkan malah memakan buahnya akibat bujukan setan. Lalu Adam AS diturunkan kedudukan ruhaninya menjadi orang zhalim, yaitu orang yang terjebak ke dalam ke-aku-an pribadi (Nafs) yang ditandai keterhijaban diri dari semua yang bersifat ruhaniyyah. Adam AS yang semula dapat berwawansabda dengan Tuhan tiba-tiba terhijab, tidak mampu lagi berhubungan langsung dengan-Nya. Adam AS pun menyesal dan bertaubat.”
“Maaf Mbah Kyai, pohon apakah yang disebut Khuld, yang membuat Adam AS terhijab dari Tuhannya?” tanya Grangsang Thoma’in ingin tahu.
“Khuld adalah pohon “perlindungan” yang menutupi pribadi makhluk dari semua hal yang bersifat semesta yang ghayb. Ibarat payung yang melindungi manusia dari langit, hujan, cahaya matahari, dan semua pemandangan di atas manusia yang berpayung, begitulah Adam AS yang memakan buah dari pohon Khuld itu laksana orang memakai payung, tidak dapat lagi melihat langsung ke arah yang tinggi di atasnya melainkan hanya dapat memandang arah yang lebih rendah, yaitu semua hal yang bersifat jasmaniah,” kata Guru Sufi menjelaskan.
Grangsang Thoma’in garuk-garuk kepala dengan kening berkerut, berusaha memahami penjelasan Guru Sufi yang masih sulit dicernanya.
“Ketahuilah, o santri-santri yang arif,” Guru Sufi melanjutkan penjelasan,”Bahwa yang disebut manusia zhalim adalah manusia yang terperangkap ke dalam ke-aku-an pribadi (Nafs) ibarat orang yang ditutupi payung ananiyyah. Ketika orang zhalim ini berdzikir mengingat Tuhan, sejatinya dzikirnyha bukan untuk Tuhan, melainkan untuk kepentingan dirinya sendiri. Oleh sebab itu, amaliah ibadah orang-orang zhalim tidak akan pernah sampai kepada Tuhan karena semua akan kembali kepada diri pribadi manusia zhalim itu. Itu sebab dengan menyesali diri dan mencela ke-aku-an pribadi (Nafs) yang terhijab, Adam AS beristighfar dan tentu saja melakukan shaum, yaitu imsak, menahan diri dari makan, minum, berbicara, nikah, dan berjalan, dengan berharap mendapat ampunan dan pertolongan Tuhan. Begitulah, Allah memberikan beberapa kalimat kepada Adam AS, yaitu petunjuk tentang bagaimana manusia bertaubat dan Tuhan pun menerima taubatnya (Q.S.Al-Baqarah: 37).”
“Mbah Kyai maaf,’ sahut Jauhar Sam’iyyah menyela,”Jika berpuasa dan beristighfar itu menjadi wahana untuk bertaubat, lalu apakah makna dari Idul Fitri pada penghujung akhir bulan Ramadhan?”
“Idul Fitri adalah Kembali Kepada Fitrah,” sahut Guru Sufi memaparkan,”Kembali kepada Fitrah Adam Ma’rifat, yaitu kedudukan Adam AS saat awal diciptakan. Adam AS yang disujudi malaikat. Adam AS yang dapat menyaksikan alam ghayb. Adam AS yang dapat berwawansabda langsung dengan Allah, yaitu maqam Adam AS sebelum makan buah khuld. Kalian faham?”
“Fahaam,” sahut santri serentak.
“Karena itu, sebelum Idul Fitri – kembali kepada fitrah Adam Ma’rifat – anak keturunan Adam AS yang diterima amaliah ibadah puasa, istighfar dan amaliah lain dalam usaha mengingat-Nya. Hanya mengingat-Nya. Ingat! Eling! Dzikr! Akan dibukakan hijab ghayb, saat memasuki derajat taqwa, yaitu menyaksikan peristiwa ghayb yang disebut Lailatul Qadr!”
Para santri berceloteh satu sama lain. Grangsang Thoma’in yang mulai faham, mengajukan pertanyaan yang mengusik pikirannya,”Mohon maaf, Mbah Kyai. Apakah berbuka dan sahur yang saya lakukan dalam berpuasa berpengaruh besar pada nilai ibadah saya? Bukankah secara syar’i puasa yang saya jalankan tidak menyimpang?”
“Tentu saja sangat kuat pengaruh buka dan sahurmu, mas,” kata Guru Sufi berusaha menjelaskan secara ilmiah,”Karena aneka menu buka dan sahurmu, telah menjadi anasir bagi menguatnya pancaindera, akal dan nafsumu! Bukankah kalian semua sudah faham, bahwa manusia yang anasir pancaindera, nafsu dan akalnya sangat kuat akan terhijab dari yang ghayb. Bukankah kalian sudah nfaham bahwa manusia-manusia penganut naturalisme, rasionalisme, empirisme, materialism, dan positivisme selalu terjebak ke dalam realitas semu yang menolak semua hal yang bersifat metafisika, ghayb. Oleh sebab itu, sudah wajar jika Pak Jauhari Sam’iyyah, Haji Bashori al-‘Arif dan Mas Wardi Bashari selama berpuasa naik derajat ketaqwaannya karena berbuka, sahur, tarawih, tadarus, sholat dhuha, sholat tasbih, dzikir, dan amaliah yang menafikan kepentingan diri sendiri benar-benar tertuju kepada Allah. Dengan cara berpuasa seperti mereka, dari hari ke hari kesadaran akal, pancaindera dan nafsu mereka akan menurun, sebaliknya anasir bashirah yang intuitif justru terbit dari relung kedalaman jiwa mereka. Jadi wajar mereka dapat melangkah naik ke derajat manusia taqwa (muttaqin), yaitu derajat manusia yang termulia di hadapan Allah (Q.S.Al-Hujurat:13), derajat makhluk tertinggi yang menjadi wakil Allah: Adam Ma’rifat.

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : NU | GP. ANSOR | PP Muslimat NU
Copyright © 2011. LESBUMI NU TARAKAN - All Rights Reserved
Dukungan MUI dan Kota Tarakan
Proudly powered by Blogger
}); //]]>