Home » » Harlah Nahdlatul Ulama NU ke 91

Harlah Nahdlatul Ulama NU ke 91

Written By Unknown on Selasa, 31 Januari 2017 | 11.23

Tema yang diangkat dalam harlah ke-91 NU (Nahdlatul Ulama) tahun ini adalah “Menyebarkan Islam yang Damai dan Toleran”. Tema tersebut merupakan refleksi dan hasil diskusi yang dilakukan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) setelah melihat realitas terkini.
“Toleransi menjadi barang yang sangat susah kita dapatkan hari ini. Banyak kelompok gemar menyesatkan. Jika ada yang dianggap tersesat malah dikafir-kafirkan, bukan malah dirangkul dan diajak menuju jalan yang dianggapnya sebagai kebenaran,” jelas Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini.
Sebagaimana diketahui sebelumnya, PBNU telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh pengurus cabang dan pengurus wilayah untuk menyemarakkan peringatan harlah NU ke-91.
Jika dihitung dalam kalender masehi, berarti Nahdlatul Ulama (NU) akan menginjak usianya yang ke 91 pada tanggal 31 Januari. Tema yang selalu diangkat oleh NU biasanya memiliki sirat makna yang sangat kuat dan dalam.Beragam persoalan muncul di tanah air akhir-akhir ini. Bangsa Indonesia serasa berada dalam perpecahan, dua kubu ekstrim menghiasi dinamika politik yang terjadi selama tahun 2016 dan awal 2017 ini.
Dan yang paling baru adalah munculnya isu-isu klasik yang sudah basi, kembali ke permukaan.
Agama dan Budaya kembali dibenturkan oleh sekelompok orang, dengan dalih bahwa budaya yang berkembang di masyarakat tidak sesuai dengan syariat Islam.
Hal ini tentu saja menjadi problematika sosial. Akan terjadi perpecahan dan konflik di akar rumput, mempertemukan antara orang-orang yang fanatik dengan syariat Islam melawan orang-orang yang fanatik terhadap budaya Nusantara. Bahkan akhir-akhir ini muncul penolakan-penolakan terhadap pagelaran wayang kulit yang notabennya merupakan salah satu karya agung Sunan Kalijaga.
Ditengah-tengah kegundahan tersebut, muncullah sosok-sosok penyelamat untuk kembali menyatukan perbedaan dalam nuansa ukhuwah yang erat.
Dalam realita sejarah yang ada, golongan Ahlussunnah wal Jamaah selalu tampil sebagai golongan yang menjadi penyelamat. Manakala muncul ekstrim Syiah dan Khawarij, Jabariyah dan Qadariyah, Muktazilah dan Hasyawiyah, Ahlussunnah mampu menempatkan diri di posisi yang paling objektif.
Tema yang diangkat oleh Nahdlatul Ulama pada Harlah nya yang ke 91 adalah “Budaya sebagai infrastruktur penguatan paham keagamaan” tentu akan menjadi tema yang menarik untuk dicermati.
Setelah berhasil melakukan terobosan dengan memperkenalkan gagasan Islam Nusantara, NU akan kembali disorot publik dengan tema budaya yang menjadi penguat keagamaan.
Bagi NU, budaya-budaya yang berkembang di masyarakat, sudah banyak dilakukan islamisasi oleh ulama-ulama terdahulu, termasuk oleh Wali Songo. Sehingga ruh budaya tersebut sudah melekat menjadi jati diri keislaman di tanah air. Permasalahan-permasalahan klasik yang sudah basi ini seharusnya sudah selesai beberapa dasawarsa yang lalu.
Dalam surat edarannya tersebut, PBNU menekankan bahwa peringatakan harlah NU ke-91 hendaknya dilakukan, pertama, dengan cara yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Kedua, kegiatan yang dilakukan diutamakan dalam bentuk kegiatan sosial keagamaan seperti santunan anak yatim, gotong royong, dan kerja bakti. Ketiga, hendaknya kegiatan lebih ditekankan kepada peningkatan kualitas dan kuantitas amaliyah an-nahdliyyah.(Adm)

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : NU | GP. ANSOR | PP Muslimat NU
Copyright © 2011. LESBUMI NU TARAKAN - All Rights Reserved
Dukungan MUI dan Kota Tarakan
Proudly powered by Blogger
}); //]]>