Home » » Filosofi Baju Surjan

Filosofi Baju Surjan

Written By Unknown on Kamis, 12 Januari 2017 | 15.56

Surjan merupakan pakaian laki-laki Jawa dengan ciri khas berlengan panjang, berkerah tegak, dan bermotif lurik. Kata surjan merupakan tembung garba atau gabungan dari dua kata, suraksa dan janma yang berarti menjadi manusia. Surjan, menurut  Tepas Dwarapura Keraton Yogyakarta berasal dari kata sirojan yang berarti pelita atau penerang.
Surjan awalnya diciptakan oleh Sunan Kalijaga sebagai baju takwa, yang selanjutnya dijadikan sebagai pakaian resmi Kesultanan Mataram. Karena Surjan diciptakan oleh Sunan Kalijaga sebagai baju takwa, maka terkandung makna filosofi di dalamnya.
Makna-makna filosofi yang terkandung di baju Surjan itu di antaranya, bagian leher atau kerah yang memiliki kancing berjumlah 3 pasang atau ada enam biji kancing sebagai penggambaran rukun iman yang enam jumlahnya.
Rukun iman itu adalah iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab-kitab, iman kepada utusan Allah, iman kepada hari kiamat, iman kepada takdir.
Dua buah kancing yang ada di bagian dada sebelah kanan dan kiri surjan sebagai simbol  dua kalimat syahadat yang berbunyi, Ashaduallaillahaillalah dan Waashaduanna Muhammada rasulullah.
Surjan juga memiliki tiga buah kancing yang letaknya ada di bagian dalam, dada dekat perut, letaknya tertutup, yang menggambarkan tiga macam nafsu manusia yang harus diredam/dikendalikan/ditutup.
Ketiga nafsu tersebut adalah nafsu bahimah (hewani), nafsu lauwamah (nafsu makan dan minum), dan nafsu syaitoniah (nafsu setan).

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : NU | GP. ANSOR | PP Muslimat NU
Copyright © 2011. LESBUMI NU TARAKAN - All Rights Reserved
Dukungan MUI dan Kota Tarakan
Proudly powered by Blogger
}); //]]>