Home » » Sedulur Papat Limo Pancer

Sedulur Papat Limo Pancer

Written By Unknown on Sabtu, 31 Desember 2016 | 11.36

Ada lima penafsiran yakni, pertama, penafsiran fisik ragawi persis sebagaimana yang disebut dalam kidung. Artinya, sedulur papat lima pancer yaitu ketuban,  ari-ari, darah (yang tumpah atau keluar menyertai kelahiran kita) dan tali pusar, sedangkan yang kelima adalah ruh yang menyatu di diri kita. Keempat saudara yaitu ketuban, ari-ari (plasenta), darah dan tali pusar, setia mendampingi dan menyertai kita semasa bayi, baik tatkala masih di dalam perut maupun sewaktu lahir ke dunia. Meskipun sesudah kita lahir secara fisik keempat saudara itu sudah tidak berguna lagi, sesungguhnya secara spiritual tidaklah demikian. Apalagi secara zat, mereka telah merasuk ke dalam diri kita. Secara spiritual mereka akan menyertai kita dengan kemampuan dan kewenangan seperti  diuraikan tembang tadi. Sebagaimana layaknya sebuah hubungan, mereka akan setia membantu apabila kita juga senantiasa peduli terhadapnya.

Penafsiran versi kedua ialah berupa empat macam nafsu yang berada di dalam diri manusia, yaitu
(1). Nafsu supiyah, berhubungan dengan masalah kesenangan, yang jika tidak dikendalikan akan menyesatkan jalan hidup kita.
(2). Nafsu amarah yang berkaitan dengan emosi. Jika tidak dikendalikan, ia sangat berbahaya karena akan mengarahkan manusia kepada perbuatan dan perilaku yang keji dan rendah.
(3). Nafsu aluamah, yaitu nafsu yang sudah mengenal baik dan buruk.
(4) Nafsu mutmainah, yaitu nafsu yang telah dikendalikan oleh keimanan, yang membawa sang pemilik menjadi berjiwa tenang, ridho dan tawakal. Sedangkan saudara yang kelima
(5) yaitu hati nurani.

Penafsiran versi ketiga adalah empat unsur atau anasir alam yang membentuk jasad manusia, yaitu tanah, air, api dan angin. Sedangkan unsur yang kelima adalah diri dan jiwa manusia itu sendiri.

Penafsiran keempat, yaitu cipta, rasa, karsa, karya dan jati diri manusia. Hal itu disimbolkan dengan tokoh-tokoh dalam cerita wayang. Cipta disimbolkan sebagai tokoh Semar, rasa sebagai tokoh Gareng, karsa sebagai Petruk, karya sebagai Bagong dan jati diri manusia sebagai tokoh ksatria Arjuna.

Penafsiran kelima yaitu 4 (empat) malaikat yang menjaga setiap orang. Malaikat Jibril menjaga keimanan, malaikat Izrail menjaga kita agar senantiasa berbuat baik dan menghindari perbuatan buruk, malaikat Israfil menerangi qalbu  dan malaikat Mikail mencukupi kebutuhan hidup kita sehari-hari. Sedangkan yang kelima adalah Sang Guru Sejati yang tiada lain adalah Gusti Allah Yang Maha Kuasa. Penafsiran versi kelima ini merunut  ajaran Sunan Kalijaga sendiri sebagaimana diuraikan dalam Kidung Kawedar, khususnya bait ke 28 dan 29. Bait tersebut menuturkan adanya keempat malaikat tadi beserta tugasnya dalam menjaga setiap manusia. Tentang Sang Guru Sejati, juga berkembang dua penafsiran.
1.Yang pertama adalah Gusti Allah yang bersemayam di kalbu kita,
2.Sang Guru Sejati adalah sang pembawa pesan dari Allah kepada rahsa sejati manusia. Pembawa pesan itu bisa berupa malaikat, tapi bisa pula ruh suci lainnya.

Dari kelima versi tersebut, versi pertama adalah yang paling berkembang dan diyakini masyarakat sampai sekarang. Sementara itu karena wilayah dakwah Sunan Kalijaga merentang terutama di sepanjang pantai utara Jawa, bahkan tempat uzlahnya selama bertahun-tahun berada di wilayah Cirebon, maka versi pertama juga dipercaya oleh sebagian masyarakat Jawa semenjak dari Banten, Jawa Barat sampai dengan Jawa Timur.

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : NU | GP. ANSOR | PP Muslimat NU
Copyright © 2011. LESBUMI NU TARAKAN - All Rights Reserved
Dukungan MUI dan Kota Tarakan
Proudly powered by Blogger
}); //]]>