Home » » Konsepsi Tata Tentrem Kerta Raharja

Konsepsi Tata Tentrem Kerta Raharja

Written By Unknown on Sabtu, 31 Desember 2016 | 16.54

Arti harfiah dari konsep Tata Tentrem Kerta Raharja ini adalah sebuah konsep untuk membangun bangsa dan negara yang diawali oleh tahapan:
a.     Menata dulu aturan-aturan, tujuan, visi, misi yang jelas, situasi dan kondisi suatu wilayah termasuk sumber daya-nya (tata = mengatur).
b.     Bila sudah tertata sesuai dengan aturan yang disepakati bersama dan dijiwai semangat kebersamaan, maka akan tercipta situasi dan kondisi yang aman (tentrem = aman tertib).
c.      Selanjutnya bila sudah tercipta suasana yang tata tentrem maka suasana dan gairah kerja pun akan terbangun dengan sendrinya (kerta = kerja).
d.     Pada akhirnya apabila gairah kerja sudah terbangun dengan maksimal, maka secara otomatis kesejahteraan pun akan segera terwujud dengan pasti.
          Dalam situasi damailah, kita akan mampu membangn suasana kerja yang benar, membangun kebenaran yang sebenar-benarnya. Maka selanjutnya akan menjadi jembatan emas ke arah terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur kerta raharja, kerta raharja ini lebih dikenal dengan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat atau tanah air yang subur makmur yang selanjutnya lebih dikenal dengan konsep “Tata Tentrem Kerta Raharja”. Sebuah konsepsi ideal sesuai Pancasila (Sila ke-5), keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia atau dalam konsep agama Islam dikenal sebagi Negara yang Baldathun Thoyibatun Warobun Ghaffur.
          Kemudian, bila menelaah arti dari “membangun kekuatan dengan kerendahan hati” menyiratkan bahwa sebagai seorang pemimpin yang mumpuni dalam menggerakan masyarakatnya harus bersifat rendah hati tidak mengedepankan kekuasaan secara arogan atau sombong. Karena seseorang dipercaya sebagai pemimpin pada hakekatnya merupakan sebuah amanah yang diberikan oleh masyarakat/bawahan, sehingga apabila lupa diri dan bersifat sombong dengan kekuasaan yang dimiliki maka akan hilang musnah.Dikenal sebagai  lmu Padi yang intinya kian berisi kian merunduk.
          Hal tersebut sejalan dengan konsepsi agama Islam yang mengajarkan agar setiap manusia bersikap tawadhu. Di dalam Al Qur’an disebutkan,

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

”Dan rendah hatilah engkau terhadap orang-orang yang mengikutimu….” (Al Syu’ara 26:215),

Serta hadist Buchari Muslim, “Maka siapa pun yang berjalan di muka bumi dnegan sombong akan terputus dari rahmat-Ku, dan barang siapa yang di dalam hatinya terbesit rasa sombong walau sebesar debu, maka dia tidak akan mencium bau surga”.
Disamping itu, jangan pula sekali-kali bersifat serakah yang hanya mementingkan kepentingan duniawi baik dalam mencari kedudukan maupun rejeki, karena barang siapa yang serakah maka dia akan celaka,
“Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.
Masalah kepemimpinan, berkaitan erat dengan unsur silih asih, silih asah, dan silih asuh yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Untuk itu selayaknya diejawantahkan oleh seorang pemimpin sebagai master dalam kepemimpinannya
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : NU | GP. ANSOR | PP Muslimat NU
Copyright © 2011. LESBUMI NU TARAKAN - All Rights Reserved
Dukungan MUI dan Kota Tarakan
Proudly powered by Blogger
}); //]]>