Home » » Kearifan Gus Mus dan Tepa Slira

Kearifan Gus Mus dan Tepa Slira

Written By Unknown on Jumat, 25 November 2016 | 16.14



  • Ndilalah

    Ndilalah saja dulu pernah sebentar tinggal di Kediri, melihat banyak ragam karakter orang yang berasal dari banyak daerah. Beruntung juga pernah menyaksiken guru-guru mengajari cara-cara yang baik untuk menyampaikan pendapat, tanpa menghilangkan nilai-nilai baik lain seperti tepa-slira, unggah-ungguh.

    Murid-murid tau betul mana yang harus dilakukan, atau mana putusan yang harus diambil. “Tepa” dalam bahasa Jawa adalah ukuran, atau lebih lengkap adalah hal-hal yang dipakai sebagai ukuran. “Selira” adalah badan”. Jadi “Tepa Selira” adalah mengukur segala sesuatu disesuaikan dengan ukuran diri kita. Dalam bahasa Jawa ada juga ungkapan “tepa-tepa” yang artinya sama dengan “tepa selira”, pakai ukuran seumpamanya hal tersebut diterapkan pada diri kita sendiri. Sedangkan ungkapan “tanpa tepa” maksudnya adalah orang yang tidak punya “tepa selira”.
    Nilai tepa selira ini benar-benar kami pegang di mana saja dan kapanpun. Misalnya kami akan berbicara dengan lirih, menggunakan bahasa krama halus jika menghadap guru atau sesepuh, kepada yang lebih sepuh. Atau kami tak bakal makan dua piring kalau perut kami hanya cukup untuk menampung satu piring nasi, Atau kami menaruh hormat kepada kawan yang baik sebagaiman kawan baik itu memperlakukan kami. Atau kami bakal memilih lawan sepadan untuk tarung bebas di atas ring 'pencak dor' untuk kami banting dan kepruk kepalanya. Kami benar-benar tau diri.
    Saya pernah dipaksa tau satu kaedah fekih oleh seorang kawan, waktu itu kami sedang mbrakoti tebu tetangga asrama di sore hari, tiba-tiba kawan saya itu berteriak nyaring, persis seperti Zarathustra dalam alam pikir Nitzche, yang persis orang gila berteriak-teriak di pasar mengabarkan Tuhannya yang kendat. Bukan main kaget kami waktu itu, ia berteriak: "Hoi, al ashlu fil kalamil haqiqah!!" yang laen cuma tingak-tinguk.
    Saya baru ngeh kaedah itu setelah mencermati polah Pandu siapa itu, yang kemarin nge-ndas-ndas-ken Mbah Musthofa Bisri, kemudian dengan gaya berkelit-nylekit malah gojekan nulis kalo ulama itu ndak maksum, jika salah harus diingatkan, atau kalau perlu dikritisi jika keliru. Bukan main.
    Untuk trondolo yang semodel itu, kami juga menerapken kaedah fekih dan nilai tepa slira sekaligus. Kaedah fekih itu menegasken bahwa hukum asal dari ucapan adalah makna hakiki, makna hakiki dari "ndasmu" adalah "kepalamu". Artinya di sini benar-benar pandu sedang ngendas-ndaske kepala Mbah Mus, tanpa perlu ditafsirkan lain. Lalu tepa selira, tepa selira pada kasus pandu ini bisa kita simpulkan bahwa pandu ini melanggar asas tepa-selira, sebagai orang Jawa dia tidak mengukur seperti apa harus bersikap, atau menempatkan dirinya dihadapan orang lain yg lebih tua darinya. Untuk itu saya butuh menarik kambali Pandu ke dalam asas tepa selira itu, mendudukan "ndasmu" kepada "ndasmu", bukan "mustakanipun panjenengan".
    Jadi mungguh saya, biar saja Mbah Mus memaafkan sebagai Begawan yang bijak, dan yang luas manahnya mudah memaafkan. Nah, kalo kita (atau cuma saya) yang sama trondolonya dengan Pandu, cukup dengan cara-cara trondolo saja, balas pisuhan dengan pisuhan, ndas dengan ndas, kepruk dengan ngepruk, bantingan dengan mbanting. Trondolo kok ditempatkan sebagai Begawan, ndak pas itu. Ingat ta, kasus Goenawan yg pernah 'negur' Pram, untuk agar Pram bisa legawa seperti Mandela? Inget ta jawaban Pram seperti apa. Di Situ Pram sedang menegaskan sikap tepa-seliranya. Wis.
  • Penulis Bagus Sigit Setiawan
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : NU | GP. ANSOR | PP Muslimat NU
Copyright © 2011. LESBUMI NU TARAKAN - All Rights Reserved
Dukungan MUI dan Kota Tarakan
Proudly powered by Blogger
}); //]]>