Home » » Dari Jalanan Menuju Sarungan

Dari Jalanan Menuju Sarungan

Written By Unknown on Selasa, 22 November 2016 | 20.04

Pasar, bengkel, dan warung kopi biasa dijadikan ajang nggosip untuk kalangan ibu ibu ataupun kalangan lelaki. Untuk kaum lelaki pasar hanyalah tempat singgah, hingga komunikasi yang terjalin tidaklah begitu sempurna, berbeda jauh kalau dibengkel atau warung kopi, dimana Lelaki cenderung lupa akan tanggung jawab sebagai pemimpin rumah tangga.
Dari 3 tempat itulah komunitas ini terbentuk. Berawal dari 3 anak muda setengah baya dengan suku yang berbeda. Cirebon (tidak diakui jawa) Jawa dan madura yang sama sama suka suluk malaman di aswaja tv. Kami berdiskusi dari konsep agama hingga konsep berbangsa, hingga muncullah sebuah gagasan untuk mengadakan semacam pengajian akbar di kota Tarakan dengan konsep kebangsaan. Saat itu disepakati untuk membentuk kepanitiaan yang solid dan Kami sepakat untuk membawa teman-teman lain yang satu misi dan mau berjuang.
Beberapa malam berikutnya, kami menghadiri pengajian dalam rangka halah NU ke 89 di sebuah musholla kecil, walau letaknya masih dipinggiran kota, namun letaknya jauh dari jalan utama. Diperkirakan yang hadir sekitar 300an orang karena kami masing-masing membawa 5 sisa berkat yang diberikan panitia selepas acara. Malam itu juga kami berkenalan dengan teman-teman yang lain.
Jangan heran kalau Harlah NU diadakan di musholla, itu sudah baik dibandingkan dari beberapa tahun sebelumnya tidak ada kegiatan sama sekali. Meminjam dari bahasa pengurus saat itu "NU la yahya wala yamut" dan kami tambahkan sadar nanging Ora sadar.
Seminggu kemudian kami berkumpul di rumah besar seorang dermawan yang hingga saat ini dijadikan sekretariat dengan membawa pasukan masing-masing dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ada pedagang mie ayam, pedagang kaca mata, penjual pentol bakso keliling, tukang cukur, bengkel, guru, ketua rt hingga polantas pesawat terbang atau atc. Walau kami berbeda-beda namun kamu punya satu kecintaan yang sama pada Nahdlotul ulama. Tujuannya saat itu hanya satu Kami semua kangen bendera NU yang telah lama tiada berkibar dikota kami. Disepakati lah pada malam hari itu kepanitiaan dan konsep pengajian akbar yang akan kita laksanakan dengan mengundang abah nuril atau yang biasa dikenal gusnuril.
Pada rapat kedua, kami kedatangan tamu istimewa yang sama sekali tidak kami kenal, beliau rupanya ketua pcnu kota Tarakan yang sangat berharap agar kami masuk ke mwc mwc yang selama ini fakum tidak ada kegiatan. Karena kami bukan kaum ngustadz yang selalu berpenampilan necis dengan kopiah hitam dan sarungan, maka kami tolak dengan halus jabatan prestisius tersebut. Setelah ada perbincangan yang alot, dan pemikiran yang panjang, akhirnya kami masuk lesbumi sebagai perahu kami untuk melangkah dalam perjuangan ini. Jujur saja kami tidak faham lesbumi itu bagaimana, asal kami bisa bergerak leluasa tanpa batas maka kami pun menerima tawaran ketua pcnu kota Tarakan.
Masuk tidaknya kami di kepengurusan NU bukan suatu hal yang mudah. Bukan susah masuknya, namun banyak sekali pertimbangan kami yang belum sanggup. Nah disinilah peran orang tua kami bapak Kh. Slamet basuki yang selalu mengarahkan kami dan menjelaskan NU bukan sebagai organisasi namun sebagai gaya hidup.
3 bulan selanjutnya alhamdulillah acara isro' mi'roj yang kami laksanakan sukses besar dan menorehkan sejarah tersendiri buat kota Tarakan dan NU tentunya. Bukan hanya saja jamaah yang hadir melebihi kapasitas (dari 2500 undangan tersebar, sekitar 4500an yang hadir) namun sebelumnya kami juga sukses mengarak panji NU pertama kali setelah lebih 10 tahun tidak bergerak. Dengan dukungan komunitas moge dan vespa acara kirab itu menyedot perhatian masyarakat. Saat itulah air mata kami tak dapat kami bendung kembali...
Malam itu juga kami dilantik PCNU kota tarakan sebagai simbolis yang kemudian besok paginya kami potong tumpeng bersama gusnuril sebagai rasa syukur kami atas kesuksesan acara kami.

By: adjie bae


Share this article :

Posting Komentar

 
Support : NU | GP. ANSOR | PP Muslimat NU
Copyright © 2011. LESBUMI NU TARAKAN - All Rights Reserved
Dukungan MUI dan Kota Tarakan
Proudly powered by Blogger
}); //]]>