Home » » MANGAN ORA MANGAN KUMPUL

MANGAN ORA MANGAN KUMPUL

Written By Unknown on Senin, 02 Januari 2017 | 19.23

Ada beberapa sudut pandang terkait dengan “mangan ora mangan kumpul ini.

PERTAMA kalau diterjemahkan murni dari segi bahasa menjadi “makan tidak makan yang penting ngumpul” dengan konotasi yang kurang baik terkait dengan keengganan untuk keluar dari  zona kenyamanan. Dengan demikian jiwa “enterpreneur” pun tidak ada. Susahnya lagi karena ungkapan ini dalam bahasa Jawa maka perilakunya menjadi terkait dengan orang Jawa.“Mangan ora mangan yang penting ngumpul” (Maksudnya ngumpul dengan keluarga, di rumah).

KEDUA merupakan sebuah pepatah yang menekankan bahwa silaturahmi lebih penting daripada kekayaan. Harta boleh tidak punya tetapi persaudaraan harus tetap dijaga. Disini “Makan” diibaratkan sebagai harta dan “kumpul” melambangkan silaturahmi.

Masalahnya kemudian dikatakan bahwa spirit “mangan ora mangan kumpul” menjadi hilang karena banyak orang Jawa merantau keluar guna mencukupi kebutuhan hidup. Jiwa persaudaraan pun bergeser menjadi individualistik. Masing-masing mengurus kepentingannya sendiri.

Kalau mereka menjadi individualis, mengapa menjelang Idul Fitri pemerintah kewalahan mengatasi arus mudik? Ikatan kekeluargaan tetap erat. Apapun akan dilakukan untuk “pulang”. Bersilaturahmi dengan keluarga, kerabat, handai taulan tetap ada, tetap “gayeng”. Ada modifikasi tetapi sama sekali tidak terjadi pergeseran nilai.

KETIGA “Mangan ora mangan kumpul” sebenarnya tidak ada hubungan dengan kemauan keluar dari habitat. Didalamnya terkandung filosofi hidup. “Mangan” (makan) merupakan kebutuhan pribadi, sedangkan “Kumpul” adalah kebutuhan manusia untuk berhubungan dengan sesamanya, merupakan kebutuhan bermasyarakat sebagai makhluk sosial. Dalam kepentingan bersama maka kepentingan individu harus dikalahkan. Walaupun “ora mangan” tetapi “kumpul” itu penting. Di temat-tempat yang nilai kekeluargaan masih tinggi, masih banyak orang bergotong-royong dalam hal apa saja. Tidak dibayar, mendapat makanan minuman sekadarnya, tetapi hati tetap senang dan tidak pernah kapok melakukan lagi. Inilah semangat “mangan ora mangan kumpul” yang perlu dipupuk dan dipelihara.

PENUTUP

Ketika masyarakat mulai individualis, ketika  kita mulai mengejar “mangan” dulu baru urusan “kumpul”, ketika  orang mau kumpul hanya kalau ada makan, dan sebenarnya kita harus mengedepankan kumpul. Tentang “mangan ora mangan kumpul”  kalau jaman sekarang, mangan ora mangan facebook”

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : NU | GP. ANSOR | PP Muslimat NU
Copyright © 2011. LESBUMI NU TARAKAN - All Rights Reserved
Dukungan MUI dan Kota Tarakan
Proudly powered by Blogger
}); //]]>