Home » » AD / ART Nahdlatul Ulama

AD / ART Nahdlatul Ulama

Written By Unknown on Selasa, 17 Januari 2017 | 16.59

ANGGARAN DASAR NAHDLATUL ULAMA  MUQADDIMAH

Bahwa  agama  Islam  adalah  rahmat  bagi  seluruh  alam karena  ajarannya  mendorong kegiatan para pemeluknya untuk mewujudkan kemaslahatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat. Bahwa para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah Indonesia terpanggil untuk melanjutkan dakwah Islamiyah  dan  melaksanakan  amar  ma'ruf  nahi  munkar  dengan mengorganisasikan  kegiatan-kegiatannya  dalam  suatu  wadah  yang  bernama NAHDLATUL  ULAMA,  yang  bertujuan  untuk mengamalkan  ajaran  Islam  menurut faham Ahlussunnah wal Jama'ah.  Bahwa  kemaslahatan  dan kesejahteraan  warga  NAHDLATUL  ULAMA  menuju Khaira  Ummah  adalah  bagian  mutlak dari kemaslahatan  dan  kesejahteraan masyarakat  Indonesia.  Maka  dengan  rahmat  Allah  Subahanahu wa  Ta'ala,  dalam perjuangan  mencapai  masyarakat  adil  dan  makmur  yang  menjadi  cita-cita seluruh masyarakat  Indonesia,  Perkumpulan/Jam'iyah  NAHDLATUL  ULAMA beraqidah/berasas Islam menganut faham Ahlusunnah wal Jama’ah dan menurut salah satu dari Madzhab Empat: Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali   Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, NAHDLATUL ULAMA berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan  yang  dipimpin  oleh  hikmat  kebijaksanaan  dalam permusyawaratan/perwakilan dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.    Bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa bagi umat Islam merupakan keimanan kepada Allah Subhanahu  wa  Ta'ala,  sebagai aqidah  Islam  yang  meyakini  bahwa  tidak  ada  yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta'ala.  Bahwa cita-cita bangsa Indonesia hanya dapat diwujudkan secara utuh apabila seluruh potensi nasional  difungsikan  secara baik,  dan  NAHDLATUL  ULAMA  berkeyakinan bahwa keterlibatannya  secara  penuh  dalam  proses  perjuangan  dan  pembangunan nasional merupakan suatu keharusan.  Bahwa  untuk  mewujudkan  hubungan  antar  bangsa  yang  adil,  damai  dan manusiawi menuntut  saling  pengertian  dan  saling  memerlukan,  maka  NAHDLATUL  ULAMA bertekad  untuk  mengembangkan  ukhuwah  Islamiyah,  ukhuwah  Wathoniyah  dan ukhuwah  Insaniyah  yang  mengemban  kepentingan  nasional  dan  internasional. Menyadari  hal-hal  di  atas,  Perkumpulan/Jam'iyah  sebagai  suatu  organisasi  maka disusunlah Anggaran Dasar NAHDLATUL ULAMA sebagai berikut :    

BAB I NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN
Pasal 1
Perkumpulan/Jam'iyah  ini bernama  NAHDLATUL  ULAMA  disingkat  NU.  Didirikan di Surabaya pada tanggal16 Rajab 1344 H bertepatan dengan tanggal 31 Januari 1926 M untuk waktu yang tak terbatas.  Pasal 2
Nahdlatul  Ulama  berkedudukan  di  Ibukota  Negara  Republik  Indonesia  yang merupakan tempat kedudukan Pengurus Besarnya.

BAB II  AQIDAH/ASAS
Pasal 3
1.  Nahdlatul Ulama sebagai Jam'iyah Diniyah Islamiyah beraqidah/berasas Islam
2.  Menganut faham Ahlusunnah wal Jama'ah dan menurut salah satu dari Madzhab Empat: Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali.
3.  Dalam  kehidupan  berbangsa  dan  bernegara,  NAHDLATUL  ULAMA  berdasar kepada  Ketuhanan  Yang  Maha  Esa,  Kemanusiaan  yang  adil  dan  beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

BAB III  LAMBANG
Pasal 4
Lambang Nahdlatul Ulama berupa  gambar bola  dunia  yang dilingkari tali tersimpul, dikitari  oleh 9 (sembilan)  bintang, 5 (lima)  bintang  terletak  melingkari  di  atas garis khatulistiwa  yang  terbesar  di  antaranya  terletak  di  tengah  atas,  sedang  4  (empat) bintang  lainnya  terletak  melingkar  di  bawah  garis  khatulistiwa,  dengan  tulisan NAHDLATUL  ULAMA  dalam  huruf  Arab  yang  melintang  dari  sebelah  kanan  bola dunia ke sebelah kiri, semua terlukis dengan warna putih di atas dasar hijau.

BAB IV  TUJUAN DAN USAHA
Pasal 5
Tujuan  Nahdlatul  Ulama  adalah  berlakunya  ajaran  Islam  yang  menganut  faham Ahlusunnah  wal  Jama'ah  dan  menurut  salah  satu  dari  Madzhab  Empat  untuk terwujudnya  tatanan  masyarakat  yang  demokratis  dan  berkeadilan  demi kemaslahatan dan kesejahteraan umat.
Pasal 6 Untuk  mewujudkan  tujuan  sebagaimana  Pasal  5  di  atas,  maka  Nahdlatul  Ulama melaksanakan usaha-usaha sebagai berikut:
a.  Di  bidang  agama,  mengupayakan  terlaksananya  ajaran  Islam  yang  menganut faham Ahlusunnah wal Jama'ah dan menurut salah satu Madzhab Empat dalam masyarakat  dengan  melaksanakan  dakwah  Islamiyah  dan  amar  ma'ruf  nahi munkar.
b.  Di bidang pendidikan, pengajaran dan kebudayaan mengupayakan terwujudnya penyelenggaraan  pendidikan  dan  pengajaran  serta  pengembangan  kebudayaan yang sesuai dengan ajaran Islam untuk membina umat agar menjadi muslim yang taqwa,  berbudi  luhur,  berpengetahuan  luas  dan  terampil,  serta  berguna  bagi agama, bangsa dan negara.
c.  Di bidang sosial,mengupayakan terwujudnya kesejahteraan lahir dan batin bagi rakyat Indonesia.
d.  Di bidang ekonomi, mengupayakan terwujudnya pembangunan ekonomi untuk pemerataan  kesempatan  berusaha  dan  menikmati  hasil-hasil  pembangunan, dengan mengutamakan tumbuh dan berkembangnya ekonomi kerakyatan.
e.  Mengembangkan  usaha-usaha  lain  yang  bermanfaat  bagi  masyarakat  banyak guna terwujudnya Khaira Ummah.

BABV  KEANGGOTAAN
Pasal 7
1.  Keanggotaan Nahdlatul Ulama terdiri dari anggota biasa, anggota luar biasa, dan anggota kehormatan.
2.  Tiap  warga  negara  Indonesia  yang  beragama  Islam  dan  sudah  aqil  baligh  yang menyatakan  kesediaannya  dan  taat  pada  Anggaran  Dasar  dan  Anggaran  Rumah Tangga.
3.  Ketentuan  menjadi  anggota  dan  pemberhentian  keanggotaan  diatur  dalam Anggaran Rumah Tangga.
Pasal 8 Ketentuan  mengenai  kewajiban  dan  hak  anggota  serta  lainlainnya  diatur  dalam Anggaran Rumah Tangga.

BABVI STRUKTUR DAN PERANGKAT ORGANISASI
Pasal 9
Struktur Organisasi Nahdlatul Ulama terdiri dari :
a.  Pengurus Besar.
b.  Pengurus Wilayah.
c.  Pengurus Cabang/Pengurus Cabang Istimewa.
d.  Pengurus Majelis Wakil Cabang.
e.  Pengurus Ranting.
Pasal 10
1.  Untuk melaksanakan tujuan dan usaha-usaha sebagaimana dimaksud Pasal 5 dan 6,  Nahdlatul  UIama  membentuk  perangkat  organisasi  yang  meliputi:  Lembaga, Lajnah  dan  Badan  Otonom  yang  merupakan  bagian  dari  kesatuan  organisasil Jam'iyah Nahdlatul Ulama.
2.  Ketentuan  pembentukan  Lembaga,  Lajnah  dan  Badan  Otonom  diatur  dalam Anggaran Rumah Tangga.

BAB VII KEPENGURUSAN
Pasal 11
1.  Kepengurusan Nahdlatul Ulama terdiri dari Mustasyar, Syuriyah & Tanfidziyah.
2.  Mustasyar adalah penasehat yang terdapat di Pengurus Besar, Pengurus Wilayah, Pengurus  Cabang/  Pengurus  Cabang  Istimewa,  dan  pengurus  Majelis  Wakil Cabang.
3.  Syuriyah adalah pimpinan tertinggi Nahdlatul Ulama.
4.  Tanfidziyah adalah pelaksana.
5.  Tugas, wewenang, kewajiban dan hak Mustasyar, Syuriyah dan Tanfidziyah diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.
Pasal 12
1.  Masa jabatan Pengurus sebagaimana dimaksud pada Pasal 9 adalah 5 (lima) tahun di semua tingkatan, kecuali Pengurus Cabang Istimewa selama 3 (tiga) tahun.
2.  Masa  jabatan  pengurus  Lembaga  dan  Lajnah  disesuaikan  dengan  masa  jabatan Pengurus Nahdlatul Ulama di tingkat masing-masing.
3.  Masa jabatan Pengurus Badan Otonom ditentukan dalam Peraturan Dasar Badan Otonom yang bersangkutan.
Pasal 13
1. Pengurus Besar Nadhlatul Ulama terdiri dari :
a. Mustasyar Pengurus Besar.
b. Pengurus Besar Harian Syuriyah.
c. Pengurus Besar Lengkap Syuriyah.
d. Pengurus Besar Harian Tanfidziyah.
e. Pengurus Besar Lengkap Tanfidziyah.
f. pengurus Besar Pleno.

2. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama terdiri dari :
a. Mustasyar Pengurus Wilayah.
b. Pengurus Wilayah Harian Syuriyah.
c. Pengurus Wilayah Lengkap Syuriyah.
d. Pengurus Wilayah Harian Tanfidziyah.
e. Pengurus Wilayah Lengkap Tanfidziyah.
f. Pengurus Wilayah Pleno.

3. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama terdiri dari :
a. Mustasyar Pengurus Cabang.
b. Pengurus Cabang Harian Syuriyah.
c. Pengurus Cabang Lengkap Syuriyah.
d. Pengurus Cabang Harian Tanfidziyah.
e. Pengurus Cabang Lengkap Tanfidziyah.
f. Pengurus Cabang Pleno.

4. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama terdiri dari:
a. Mustasyar Pengurus Cabang.
b. Pengurus Cabang Harian Syuriah.
c. Pengurus Cabang Lengkap Syuriah.
d. Pengurus Cabang Harian Tanfidziyah.
e. Pengurus Cabang Lengkap Tanfidziyah.
f. Pengurus Cabang Pleno.

5. Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama terdiri atas:
a. Mustasyar Pengurus Majelis Wakil Cabang.
b. Pengurus Majelis Wakil Cabang Harian Syuriyah.
c. Pengurus Majelis Wakil Cabang Lengkap Syuriyah.
d. Pengurus Majelis Wakil Cabang Harian Tanfidziyah.
e. Pengurus Majelis Wakil Cabang Lengkap Tanfidziyah.
f. Pengurus Majelis Wakil Cabang Pleno.

6. Pengurus Ranting Nadhlatul Ulama terdiri atas:
a. Pengurus Ranting Harian Syuriyah.
b. Pengurus Ranting Lengkap Syuriyah.
c. Pengurus Ranting Harian Tanfidziyah.
d. Pengurus Ranting Pleno.

7.  Ketentuan  mengenai  susunan  dan  komposisi  pengurus  diatur  dalam  Anggaran Rumah Tangga.
Pasal 14
1.  Pengurus  Nadhlatul  Ulama  di  semua  tingkatan  dipilih  dan  ditetapkan  dalam permusyawaratan sesuai tingkatannya.
2.  Ketentuan  pemilihan  dan  penetapan  Pengurus  Nahdlatul  Ulama  diatur  dalam Anggaran Rumah Tangga.
Pasal 15
Apabila  terjadi  kekosongan  jabatan  antar  waktu  dalam  kepengurusan  Nahdlatul Ulama, maka ketentuan pengisiannya diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

BAB VIII PERMUSYAWARATAN
Pasal 16
Permusyawaratan di lingkungan Nahdlatul Ulama meliputi:
a. Permusyawaratan Tingkat Nasional.
b. Permusyawaratan Tingkat Daerah.
c. Permusyawaratan bagi Perangkat Organisasi.
Pasal 17
1.  Permusyawaratan tingkat nasional di lingkungan Nahdlatul Ulama adalah:
a. Muktamar.
b. Muktamar Luar Biasa.
c. Konferensi Besar.
d. Musyawarah Nasional Alim Ulama.
e. Rapat Koordinasi Nasional.

2.  Ketentuan Permusyawaratan Nasional sebagaimana tersebut dalam ayat 1 Pasal 17 diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.
Pasal18
1.  Permusyawaratan untuk kepengurusan tingkat daerah meliputi:
a. Konferensi Wilayah.
b. Musyawarah Kerja Wilayah.
c. Konferensi Cabangl Konferensi Cabang Istimewa.
d. Musyawarah Kerja Cabang /Musyawarah Kerja Cabang Istimewa.
e. Konferensi Majelis Wakil Cabang.
f. Musyawarah Majelis Wakil Cabang.
g. Musyawarah Anggota.

2.  Permusyawaratan  tingkat  daerah  sebagaimana  disebut  dalam  ayat  1  Pasal  18 diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga.  Pasal 19
Permusyawaratan  untuk  lingkungan  Lembaga,  Lajnah  dan  Badan  Otonom  diatur dalam  ketentuan  internal  Lembaga,  Lajnah  dan  Badan  Otonom  yang  bersangkutan dengan memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a.  Permusyawaratan  Tertinggi  Badan Otonom  merujuk  kepada Anggaran  Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan Program-program Nadhlatul Ulama.
b.  Permusyawaratan  Lembaga  dan  Lajnah  diatur  dalam  Peraturan  Organisasi Lembaga dan Lajnah yang bersangkutan.
c.  Permusyawaratan Badan Otonom diatur dalam Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangganya
d.  Segala  hasil  permusyawaratan  dan  kebijakan  Lembaga,  Lajnah  dan  Badan Otonom  dinyatakan  tidak  sah  sepanjang  bertentangan  dengan  Keputusan
Muktamar,  Musyawarah  Nasional  Alim  Ulama,  Konferensi  Besar  dan Musyawarah Pimpinan Nasional.

BAB IX KEUANGAN DAN KEKAYAAN
Pasal 20
1.  Keuangan  Nahdlatul  Ulama  digali  dari  sumber-sumber  dana  di  lingkungan Nahdlatul Ulama, umat Islam, maupun sumber-sumber lain yang halal dan tidak mengikat.
2. Sumber dana di lingkungan Nahdlatul Ulama diperoleh dari:
a. Uang pangkal.
b. Uang I'anah Syahriyah.
c. Uang I'anah Sanawiyah.
d. Sumbangan dari warga dan simpatisan Nahdlatul Ulama.
e. Usaha-usaha lain yang halal.
3. Pemanfaatan uang pangkal, I'anah Syahriyah dan I'anah Sanawiyah diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.
Pasal 21
1.  Kekayaan Nahdlatul Ulama dan perangkatnya berupa dana, harta benda bergerak dan atau harta benda tidak bergerak harus dicatatkan sebagai kekayaan organisasi Nahdlatul Ulama.
2.  Rais Aam dan Ketua Umum mewakili Nahdlatul Ulama di dalam maupun di luar Pengadilan  tentang  segala hal  dan  segala  kejadian,  baik  mengenai  kepengurusan maupun  tindakan  kepemilikan  dengan  tidak  mengurangi  pembatasan  yang diputuskan Muktamar.
3.  Pengurus  Besar  Nahdlatul  Ulama  dapat  melimpahkan  penguasaan,  pengelolaan dan  atau  pengurusan  kekayaan  Nahdlatul  Ulama  kepada  Pengurus  Wilayah, pengurus  Cabang,  pengurus  Cabang  Istimewa  dan  Anggaran  Dasar  Anggaran Rumah  Tangga  NU  atau  kepada  Pengurus  Majelis  Wakil  Cabang  yang ketentuannya diatur dalam Peraturan Organisasi.
4.  Segala aset Nahdlatul Ulama hanya dapat digunakan untuk kepentingan organisasi Nahdlatul Ulama dan atau perangkatnya.

BAB X PERUBAHAN
Pasal 22
1.  Anggaran Dasar ini hanya dapat diubah oleh Keputusan Muktamar yang sah yang dihadiri  sedikitnya  dua  pertiga  dari  jumlah  pengurus  Wilayah  dan  Pengurus Cabang/Pengurus  Cabang  Istimewa  yang  sah  dan  sedikitnya  disetujui  oleh  dua pertiga dari jumlah suara yang sah.
2.  Dalam  hal  Muktamar  yang  dimaksud  ayat  (1)  Pasal  ini  tidak  dapat  diadakan karena  tidak  tercapai  korum,  maka  ditunda  selambat-Iambatnya  1  (satu)  bulan dan  selanjutnya  dengan  memenuhi  syarat  dan  ketentuan  yang  sama  Muktamar dapat dimulai dan dapat mengambil keputusan yang sah.

BAB XI  PEMBUBARAN ORGANISASI
Pasal 23
1.  Pembubaran  Perkumpulan  Jam'iyah  Nahdlatul  Ulama  sebagai  suatu  organisasi hanya  dapat  dilakukan  apabila  mendapat  persetujuan  dari  seluruh  anggota  dan pengurus di semua tingkatan. 2.  Apabila  Nahdlatul  Ulama  dibubarkan,  maka  segala  kekayaannya  diserahkan kepada organisasi atau badan amal yang sefaham.

BAB XII  PENUTUP
Pasal 24
Muqaddimah Qanun Asasy oleh Rais Akbar Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy'ari dan Naskah  Khittah Nahdlatul Ulama  merupakan bagian  tak terpisahkan  dari  Anggaran Dasar ini.
Pasal 25
Segala sesuatu yang belum cukup diatur dalam Anggaran Dasar ini akan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.
Pasal 26
Anggaran Dasar ini mulai berlaku sejak saat disahkan.   ditetapkan di BoyoIali Pada Tanggal 18 Syawal 1425  H 01 Desember 2004 M  MUKTAMAR XXXI NAHDLATUL ULAMA PIMPINAN SIDANG PLENO IX            
Ttd    
Drs KH A Hafizh Usman ( Ketua)
H M Rozy Munir SE MSc (Wk. Ketua)
Drs H Taufiq R Abdullah (sekretaris)                                            
Tim Perumus :
KH. A. Hafizh Utsman  Ketua merangkap anggota (PBNU)
H.M. Rozy Munir, SE., MSc      Anggota (PBNU)
Drs. H. Taufiq R Abdullah      Anggota (PBNU)  
Drs. H. Ahmad Fayumi      Anggota (PBNU)
Drs. H. Syamsuddin Asyrofi M.Hum    Anggota (PWNU Jateng)
H. Soleh Hayat, SH        Anggota (PWNU Jatim)
H. Imron Masyhudi        Anggota (PCI Saudi Arabia)
Drs. Isnadi Nori        Anggota (PWNU Sumsel)
H. Koman, S.pd.i        Anggota (PWNU Papua)
Tedy Suryana          Anggota (PWNU Kalsel)

ANGGARAN RUMAH TANGGA NAHDLATUL ULAMA  

BAB I KEANGGOTAAN
Pasal 1
Keanggotaan Nahdlatul Ulama terdiri dari:
a.  Anggota biasa, selanjutnya disebut anggota, ialah setiap Warga Negara Indonesia yang beragama Islam, menganut faham Ahlusunnah wal Jamaah dan menurut salah satu  Mazhab  Empat.  sudah  aqil  baligh,  menyetujui  aqidah.  asas.  tujuan,  usaha-usaha serta sanggup melaksanakan semua keputusan Nahdlatul Ulama.
b.  Anggota  luar  biasa,  ialah  setiap  orang  yang  beragama  Islam,  menganut  faham Ahlusunnah wal Jamaah dan menu rut salah satu Mazhab Empat, sudah aqil baligh. menyetujui  aqidah.  asas.  tujuan  dan  usaha-usaha Nahdlatul  Ulama. namun yang bersangkutan berdomisili secara tetap di luar Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
c.  Anggota kehormatan, ialah setiap orang yang bukan anggota biasa atau anggota luar biasa yang dinyatakan telah berjasa kepada Nahdlatul Ulama dan ditetapkan dalam keputusan Pengurus Besar.  

BAB II TATACARA PENERIMAAN DAN PEMBERHENTIAN KEANGGOTAAN
Pasal 2
1.  Anggota biasa diterima melalui Ranting di tempat tinggalnya.
2.  Apabila  tidak  ada  Pengurus  Ranting  di  tempat  tinggalnya  maka  pendaftaran anggota dilakukan di Ranting terdekat.
3.  Anggota luar biasa diterima melalui Pengurus Cabang Istimewa.  Pasal 3
1. Penerimaan anggota biasa maupun anggota luar biasa diatur dengan cara:
a.  Mengajukan  permintaan  menjadi  anggota  disertai  pernyataan  setuju  pada aqidah, asas, tujuan, dan usaha-usaha Nahdlatul Ulama secara tertulis atau lisan, membayar uang pangkal sebesar Rp. 1000 (seribu rupiah).
b.  Jika permintaan itu diluluskan, maka yang bersangkutan menjadi calon anggota selama  6  (enam)  bulan,  dengan  hak  menghadiri  kegiatan-kegiatan  Nahdlatul Ulama yang dilaksanakan secara terbuka. c.  Apabila selama menjadi calon anggota yang bersangkutan menunjukkan hal-hal yang positif, maka ia diterima menjadi anggota penuh dan kepadanya diberikan Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (KARTANU).
d.  Permintaan  menjadi  anggota  dapat  ditolak  apabila  terdapat  alasan  yang  kuat, baik syar'i maupun organisasi.
2.  Anggota keluarga dari anggota biasa dan anggota luar biasa Nahdlatul Ulama diakui sebagai anggota keluarga besar Perkumpulan Jam'iyah Nahdlatul Ulama.
Pasal 4
1.  Anggota kehormatan dapat  diusulkan oleh pengurus Cabang, Pengurus Cabang Istimewa atau Pengurus Wilayah.
2.  Setelah  mempertimbangkan  kesediaan  yang  bersangkutan  dan  memperoleh persetujuan  Pengurus  Besar  Nahdlatul  Ulama,  kepadanya  diberikan  surat pengesahan.
Pasal 5
1.  Seseorang  dinyatakan  berhenti  dari  keanggotaan  Nahdlatul  Ulama  karena permintaan  sendiri,  dipecat,  atau  tidak  lagi  memenuhi  syarat  keanggotaan Nahdlatul Ulama.
2.  Seseorang berhenti dari keanggotaan Nahdlatul Ulama karena permintaan sendiri yang  diajukan  kepada  Pengurus  Ranting  secara  tertulis,  atau  jika  dinyatakan secara  lisan  perlu  disaksikan  oleh  sedikitnya  2  (dua)  orang  anggota  Pengurus Ranting.
3.  Seseorang  dipecat  dari  keanggotaan  Nahdlatul  Ulama  karena  dengan  sengaja tidak  memenuhi  kewajibannya sebagai anggota  atau  melakukan  perbuatan  yang mencemarkan dan menodai nama Nahdlatul Ulama, baik ditinjau dari segi syar'i, kemaslahatan umum maupun organisasi dengan prosedur sebagai berikut:
a.  Pemecatan  anggota  biasa  dilakukan  berdasarkan  Rapat  Pleno  Pengurus Cabang  setelah  menerima  usul  dari  Pengurus  Ranting  berdasarkan  Rapat Pleno Pengurus Ranting.
b.  Pemecatan  anggota luar  biasa dilakukan  berdasarkan Rapat Pleno Pengurus Cabang Istimewa.
c.  Sebelum  dipecat,  anggota  yang  bersangkutan  diberi  surat  peringatan  oleh pengurus Ranting.
d.  Jika  setelah  15  (lima  belas)  hari  peringatan  itu  tidak  diperhatikan,  maka Pengurus Cabang dapat memberhentikan sementara selama 3 (tiga) bulan.
e.  Anggota biasa yang diberhentikan sementara atau dipecat dapat membela diri dalam suatu Konferensi Cabang atau naik banding ke Pengurus Wilayah.
f.  Anggota  luar  biasa  yang  diberhentikan  sementara  atau  dipecat  dapat membela diri dalam suatu Konferensi Cabang Istimewa atau naik banding ke Pengurus Besar.
g.  Pengurus  Besar  pengurus  Wilayah  dapat  mengambil  keputusan  atas pembelaan itu.
h.  Surat  pemberhentian  atau  pemecatan  sebagai  anggota  dikeluarkan  oleh Pengurus  Cabangl  Pengurus Cabang  Istimewa bersangkutan  atas keputusan Rapat Pleno Pengurus Cabangl Rapat Pleno Pengurus Cabang Istimewa.
i.  Jika selama  pemberhentian  sementara yang bersangkutan tidak ruju' ilalhaq, maka keanggotaannya gugur dengan sendirinya.
j.  Pengurus Besar mempunyai wewenang memecat anggota secara langsung jika tidak dapat dilakukan oleh Pengurus di bawahnya.
k.  Pemecatan  kepada  seorang anggota  yang dilakukan  langsung oleh  Pengurus Besar berdasarkan hasil Rapat Pleno pengurus Besar.
l.  Anggota  yang  dipecat  langsung  oleh  Pengurus  Besar  dapat  membela  diri dalam Konferensi Besar atau Muktamar.
m.  Pertimbangan  dan  tatacara  tersebut  pad  a  ayat  (3)  juga  berlaku  terhadap pencabutan anggota kehormatan.

BAB III KEWAJIBAN DAN HAK ANGGOTA
Pasal 6
Anggota Nahdlalul Ulama berkewajiban:
a.  Setia, tunduk dan taat kepada Perkumpulan Jam'iyah Nahdlatul Ulama.
b.  Bersungguh-sungguh  mendukung  dan  membantu  segala  langkah  Nahdlatul Ulama,  serta  bertanggungjawab  atas  segala  sesuatu  yang  diamanahkan kepadanya.
c.  Membayar  i’anah  Syahriyah  (iuran  bulanan)  dan  I'anah  Sanawiyah  (iuran tahunan) yang jumlahnya ditetapkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
d.  Memupuk  dan  memelihara  Ukhuwah  Islamiyah,  Ukhuwah  Wathoniyah  dan Ukhuwah  Insaniyah  serta  persatuan  nasional  dalam  kerangka  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pasal 7
1. Anggota biasa berhak:
a.  Menghadiri  Rapat  Anggota  Ranting,  mengemukakan  pendapat  dan memberikan suara.
b.  Memilih  dan  dipilih  menjadi  pengurus  atau  menduduki  jabatan  lain  yang ditetapkan baginya.
c.  Mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Nahdlatul Ulama.
d.  Memberikan usulan, masukan dan koreksi kepada Pengurus dengan cara dan tujuan yang baik.
e.  Mendapatkan pembelaan, perlindungan dan pelayanan.
f.  Melakukan pembelaan atas keputusan Nahdlatul Ulama terhadap dirinya.

2. Anggota luarbiasa berhak:
a.  Mengikuti kegiatan-kegiatan yg diselenggarakan oleh Nahdlatul Ulama.
b.  Memberikan  usulan,  masukan  dan  koreksi  kepada  Pengurus  dengan  tujuan dan cara yang baik.
c.  Mendapatkan  pelayanan  informasi  tentang  program  dan kegiatan  Nahdlatul Ulama.
d.  Melakukan pembelaan atas keputusan Nahdlatul Ulama terhadap dirinya.
3. Anggota kehormatan berhak menghadiri kegiatan-kegiatan Nahdlatul Ulama atas undangan Pengurus  dan dapat  memberikan saran-saran, pendapatnya, namun tidak memiliki hak suara atas pendapatnya maupun hak memilih dan dipilih.
4.  Anggota  Biasa dan  Luar Biasa Nahdlatul  Ulama tidak diperkenankan  merangkap menjadi anggota organisasi sosial kemasyarakatan lain yang mempunyai aqidah, asas dan tujuan yang berbeda atau merugikan Nahdlatul Ulama.

BAB IV TINGKAT KEPENGURUSAN
Pasal 8
Tingkat kepengurusan dalam organisasi Nahdlatul Ulama terdiri dari:
a.  Pengurus Besar (PS) untuk tingkat Pusat
b.  Pengurus Wilayah (PW) untuk tingkat Propinsi
c.  Pengurus Cabang (PC) untuk tingkat Kabupaten Kota dan Pengurus Cabang Istimewa (PCI) untuk Luar Negeri.
d.  Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) untuk tingkat Kecamatan.
e.  Pengurus Ranting (PR) untuk tingkat Kelurahan/desa
Pasal 9
1.  Pengurus  besar  Nahdlatul  Ulama  adalah  kepengurusan  Perkumpulan  Jam'iyah sebagai  suatu  organisasi di  tingkat  pusat dan  berkedudukan  di  Ibukota  Negara Republik Indonesia.
2.  Pengurus  Sesar  Nahdlatul  Ulama sebagai  tingkat  kepengurusan  tertinggi  dalam Nahdlatul  Ulama  merupakan  penanggung  jawab  kebijakan  dalam  pengendalian organisasi dan pelaksanaan keputusan-keputusan Muktamar.
Pasal 10
1.  Pengurus  Wilayah  Nahdlatul  Ulama  adalah  kepengurusan  organisasi  Nahdlatul Ulama di tingkat propinsi dan berkedudukan di ibukota propinsi.
2.  Pengurus  Wilayah  Nahdlatul  Ulama  dapat  dibentuk  jika  terdapat sekurangkurangnya 5 (lima) Cabang.
3.  Permintaan untuk membentuk pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama disampaikan kepada  pengurus  Besar  dengan  disertai  keterangan  tentang  daerah  yang bersangkutan  dan  jumlah  Cabang  yang  ada  di  daerah  itu  setelah  melalui  masa percobaan 3 (tiga) bulan.
4.  Pengurus  Wilayah  berfungsi  sebagai  koordinator  Cabang-Cabang  di  daerahnya dan sebagai pelaksana pengurus Besar untuk daerah yang bersangkutan.
Pasal 11
1.  Pengurus  Cabang  Nahdlatul  Ulama  adalah  kepengurusan  organisasi  Nahdlatul Ulama di tingkat Kabupatenl Kota dan berkedudukan di ibukota Kabupaten Kota.
2.  Dalam hal-hal yang menyimpang dari ketentuan ayat (1) diatas disebabkan oleh besarnya jumlah penduduk dan luasnya daerah atau sulitnya komunikasi dan atau faktor kesejarahan, pembentukan Cabang diatur oleh kebijakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
3.  Pengurus  Cabang  Nahdlatul  Ulama  dapat  dibentuk  jlka  terdapat sekurangkurangnya 3 (tiga) Majelis Wakil Cabang.
4.  Permintaan  untuk membentuk pengurus Cabang disampaikan kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dalam bentuk permohonan yang dikuatkan oleh Pengurus Wilayah yang bersangkutan setelah melalui masa percobaan selama 3 (tiga) bulan.
5.  Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama memimpin dan mengkoordinir Majelis Wakil Cabang  dan  Ranting  di  daerah  kewenangannya,  melaksanakan  kebijaksanaan Pengurus Wilayah dan Pengurus Besar untuk daerahnya
Pasal 12
1.  Pengurus  Cabang  Istimewa  Nahdlatul  Ulama  adalah  kepengurusan  organisasi Nahdlatul Ulama setingkat Cabang yang berada di luar negeri.
2.  Pengurus  Cabang  Istimewa  Nahdlatul  Ulama  dibentuk  oleh  Pengurus  Besar Nahdlatul  Ulama  atas  permohonan  sekurang-kurangnya  25  (dua  puluh  lima) orang anggota setelah melalui masa percobaan selama 3 (tiga) bulan.
Pasal 13
1.  Pengurus  Majelis  Wakil  Cabang  Nahdlatul  Ulama  adalah  tingkat  kepengurusan organisasi Nahdlatul Ulama di tingkat Kecamatan. 2.  Pengurus  Majelis  Wakil  Cabang  Nahdlatul  Ulama  dapat  dibentuk  jika  terdapat sekurang-kurangnya 4 (empat) Ranting.
3.  Permintaan  untuk  membentuk  Majelis  Wakil  Cabang  Nahdlatul  Ulama disampaikan  kepada  Pengurus  Wilayah  dengan  rekomendasi  Pengurus  Cabang dan  dapat  disahkan  oleh  Pengurus  Wilayah  setelah  melalui  masa  percobaan selama 3 (tiga) bulan.
Pasal 14
1.  Pengurus  Ranting  Nahdlatul  Ulama  adalah  tingkat  kepengurusan  organisasi Nahdlatul Ulama di tingkat Kelurahan/Desa.
2.  Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama yang dimaksud dalam ayat (1) pasal 14 dapat dibentuk  jika  di  suatu  Kelurahan/Desa  terdapat  sekurang-kurangnya  15  (lima belas) orang anggota.
3.  Permintaan  pembentukan  Ranting  Nahdlatul  Ulama  disampaikan  kepada Pengurus  Cabang  dengan  rekomendasi  Pengurus  Majelis  Cabang  dan  dapat Anggaran  Dasar/Anggaran  Rumah  Tangga  NU disahkan  oleh  Pengurus  Cabang setelah melalui masa percobaan selama 3 (tiga) bulan.
4.  Untuk  efektivitas  organisasi  dan  pengembangan  anggota,  dapat  dibentuk Kelompok Anak Ranting (KAR). Setiap KAR sedikitnya terdiri dari 10 (sepuluh) orang anggota.

BAB V PERANGKAT ORGANISASI
Pasal 15
Perangkat organisasi Nahdlatul Ulama terdiri dari:
a.  Lembaga.
b.  Lajnah
c.  Badan Otonom
Pasal 16
1.  Lembaga  adalah  perangkat  departementasi  organisasi  Nahdlatul  Ulama  yang berfungsi  sebagai  pelaksana  kebijakan  Nahdlatul  Ulama berkaitan  dengan  suatu bidang tertentu.
2.  Ketua  Lembaga  ditunjuk  langsung  dan  bertanggung  jav.db  kepada  pengurus Nahdlatul Ulama sesuai dengan tingkatannya.
3.  Ketua Lembaga dapat diangkat untuk maksimal 2 (dua) masa jabatan.
4.  Lembaga  sebagaimana  dimaksud  pada  Pasal15  butir  (a)  dan  ayat(1)  Pasal  16 adalah:
a.  Lembaga  Dakwah Nahdlatul Ulama disingkat LDNU, bertugas melaksanakan kebijakan  Nahdlatul  Ulama  di  bidang  pengembangan  agama  Islam  yang menganut faham Ahlussunnah wal Jamaah.
b.  Lembaga  Pendidikan  Maarif  Nahdlatul  Ulama  disingkat  LP  Maarif  NU, bertugas  melaksanakan  kebijakan Nahdlatul  Ulama dibidang  pendidikan dan pengajaran formal.
c.  Rabithah Ma'ahid al Islamiyah disingkat RMI, bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama dibidang pengembangan pondok pesantren.
d.  Lembaga  Perekonomian  Nahdlatul  Ulama  disingkat  LPNU  bertugas melaksanakan kebijakan  Nahdlatul Ulama di bidang pengembangan ekonomi warga Nahdlatul Ulama.
e.  Lembaga  Pengembangan  Pertanian  Nahdlatul  Ulama  disingkat  LP2NU, bertugas melaksanakan kebijakan  Nahdlatul Ulama di bidang pengembangan pertanian, lingkungan hidup dan eksplorasi kelautan.
f.  Lembaga  Kemaslahatan  Keluarga  Nahdlatul  Ulama  disingkat  LKKNU, bertugas  melaksanakan  kebijakan  Nahdlatul  Ulama  dibidang  kesejahteraan keluarga, sosial dan kependudukan.
g.  Lembaga  Kajian  dan  Pengembangan  Sumberdaya  Manusia  disingkat Lakpesdam,  bertugas  melaksanakan  kebijakan  Nahdlatul  Ulama  di  bidang pengkajian dan pengembangan sumber daya manusia.
h.  Lembaga  Penyuluhan  dan  Bantuan  Hukum  disingkat  LPBHNU,  bertugas melaksanakan penyuluhan dan pemberian bantuan hukum.
i.  Lembaga  Seni  Budaya  Muslimin  Indonesia  disingkat  Lesbumi,  bertugas melaksanakan  kebijakan  Nahdlatul  Ulama  dibidang  pengembangan  seni  dan budaya.
j.  Lembaga  Amil  Zakat,  Infaq  dan  Shadaqah  Nahdlatul  Ulama  disingkat LAZISNU,  bertugas  menghimpun,  mengelola  dan  mentasharufkan,  zakat, infaq dan shadaqah.
k.  Lembaga Waqaf dan Pertanahan Nahdlatul Ulama disingkat LWPNU, ertugas mengurus, mengelola serta mengembangkan tanah dan bangunan serta harta benda wakaf lainnya milik Nahdlatul Ulama.
l.  Lembaga Bahtsul Masail disingkat LBM, bertugas membahas dan memecahkan masalah-masalah  yang  maudlu'iyah  (tematik)  dan  waqi'iyah  (aktual)  yang memerlukan kepastian hukum.
m.  Lembaga  Ta'mir  Masjid  Indonesia  disingkat  LTMI,  bertugas  melaksanakan kebijakan  Nahdlatul  Ulama  di  bidang  pengembangan  dan  pemberdayaan Masjid.
n.  Lembaga Pelayanan Kesehatan  Nahdlatul  Ulama disingkat LPKNU, bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang kesehatan.
5.  Pembentukan dan penghapusan Lembaga ditetapkan oleh permusyawaratan pada masing-masing tingkat kepengurusan Nahdlatul Ulama.
6.  Pembentukan  Lembaga  di  tingkat  Wilayah,  Cabang  dan  Cabang  Istimewa, disesuaikan dengan kebutuhan penanganan program.  
Pasal 17
1.  Lajnah  adalah  perangkat  organisasi  Nahdlatul  Ulama  untuk  melaksanakan program Nahdlatul Ulama yang memerlukan penanganan khusus.
2.  Lajnah sebagaimana yang dimaksud Pasal 15 butir (b) dan ayat (1) Pasal17 adalah:
a.  Lajnah  Falakiyah,  bertugas  mengurus  masalah  hisab  dan  ru'yah,  serta pengembangan IImu Falak.
b.  Lajnah Ta'lifWan Nasyr, bertugas mengembangkan penulisan, penerjemahan dan  penerbitan  kitab  buku  serta  media  informasi  menurut  faham Ahlussunnah wal Jamaah.
3.  Pembentukan  dan  penghapusan  Lajnah  ditetapkan  oleh  permusyawaratan  pada masing-masing tingkat kepengurusan Nahdlatul Ulama.
4.  Pembentukan  Lajnah  di  tingkat  Wilayah,  Cabang  dan  Majelis  Wakil  Cabang dilakukan sesuai dengan keperluan penanganan program khusus dan tenaga yang tersedia.
Pasal 18
1.  Badan  Otonom  adalah  perangkat  organisasi  Nahdlatul  Ulama  yang  berfungsi melaksanakan  kebijakan  Nahdlatul  Ulama  yang  berkaitan  dengan  kelompok masyarakat tertentu dan beranggotakan perorangan.
2.  Badan  Otonom  berkewajiban  menyesuaikan  dengan  aqidah,  asas  dan  tujuan Nahdlatul Ulama.
3.  Kepengurusan Badan Otonom diatur menu rut Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah  Tangga  masing-masing  sesuai  dengan  Anggaran  Dasar  dan  Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama.
4.  Keputusan Kongres atau Konferensi Badan Otonom dilaporkan kepada pengurus Besar  Nahdlatul  Ulama  atau  Pengurus  Nahdlatul  Ulama  menurut  tingkatannya masing-masing.
5.  Dalam  melaksanakan  program,  Badan  Otonom  memiliki  keleluasaan  yang tidak bertentangan dengan kebijakan Nahdlatul Ulama.
6.  Badan  Otonom  sebagaimana  dimaksud  Pasal15  butir  (c)  dan  ayat  (1)  Pasal18 adalah:
a.  Jam'iyyah Ahli Thariqah AI Mu'tabarah An-Nahdliyyah, adalah Badan Otonom yang  berfungsi  membantu  melaksanakan  kebijakan  Nahdlalul  Ulama  pada pengikut  tharekat  yang  mu'tabar  di  lingkungan  Nahdlatul  Ulama  serta membina dan mengembangkan seni hadrah.
b.  Jam'iyyatul  Qurra  Wal  Huffazh,  adalah  Badan  Otonom  yang  berfungsi membantu  melaksanakan  kebijakan  Nahdlatul  Ulama  pada  kelompok Qori/Qoriah dan Hafizh Hafizhah di lingkungan Nahdlatul Ulama.
c.  Muslimat  Nahdlatul  Ulama  disingkat  Muslimah  NU,  adalah  Badan  Otonom yang  berfungsi  membantu  melaksanakan  kebijakan  Nahdlalul  Ulama  pada anggota perempuan Nahdlatul Ulama.
d.  Fatayat  Nahdlatul  Ulama disingkat  Falayat NU,  adalah  Badan  Otonom  yang berfungsi membanlu melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama pada anggota perempuan muda Nahdlatul Ulama.
e.  Gerakan  Pemuda  Ansor  disingkat  GP  Ansor,  adalah  Badan  Otonom  yang berfungsi membantu melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama pada anggota pemuda Nahdlatul Ulama.
f.  Ikatan  Pelajar Nahdlatul Ulama disingkat IPNU, adalah Badan Otonom yang berfungsi  membantu  melaksanakan  kebijakan  Nahdlatul  Ulama pada pelajar laki-Iaki dan santri laki-Iaki.
g.  Ikatan Pelajar Putri Nahdlalul Ulama disingkal IPPNU, adalah Badan Otonom yang  berfungsi  membantu  melaksanakan  kebijakan  Nahdlatul  Ulama  pada pelajar perempuan dan santri perempuan.
h.  Ikatan  Sarjana  Nahdlalul  Ulama disingkat  ISNU  adalah  Badan Otonom yang berfungsi  membantu  melaksanakan  kebijakan  Nahdlatul  Ulama  pada kelompok sarjana dan kaum intelektual di kalangan Nahdlatul Ulama.
i.  Serikat Buruh Muslimin Indonesia disingkat Sarbumusi, adalah Badan Otonom yang  berfungsi  melaksanakan  kebijakan  Nahdlatul  Ulama  di  bidang kesejahteraan dan pengembangan ketenagakerjaan.
j.  Pagar Nusa, adalah Badan Otonom yang berfungsi membantu melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama pada pengembangan seni bela diri.
Pasal 19
Pengurus Nahdlatul Ulama berkewajiban membina dan mengayomi seluruh Lembaga, Lajnah dan Badan Otonom pada tingkat masing-masing.
BAB VI SUSUNAN PENGURUS BESAR
Pasal 20
1.  Mustasyar Pengurus Besar terdiri dari beberapa orang.
2.  Pengurus Harian Syuriyah terdiri dari Rais Aam, Wakil Rais Aam, beberapa Rais, Katib Aam dan beberapa Wakil Katib.
3.  Pengurus Lengkap Syuriyah terdiri dari Pengurus Harian Syuriyah dan A'wan.
Pasal 21
1.  Pengurus  Harian  Tanfidziyah  terdiri  dari  Ketua  Umum,  beberapa  Ketua, Sekretaris Jenderal, beberapa Wakil Sekretaris Jenderal, Bendahara dan beberapa Wakil Bendahara.
2.  Pengurus  Lengkap  Tanfidziyah  terdiri  atas  Pengurus  Harian  Tanfidziyah  dan Ketua Lembaga dan Lajnah Pusat.
Pasal 22
Pengurus  Pleno  terdiri  dari  Mustasyar,  Pengurus  Lengkap  Syuriyah.  Pengurus Lengkap Tanfidziyah dan Ketua Umum Badan Otonom tingkat pusat.

BAB VII SUSUNAN PENGURUS WILAYAH
Pasal 23
1.  Mustasyar Pengurus Wilayah terdiri dari beberapa orang.
2.  Pengurus  Harian  Syuriyah  terdiri  dari  Rais,  beberapa  Wakil  Rais,  Katib  dan beberapa Wakil Katib.
3.  Pengurus  Lengkap  Syuriyah  terdiri  dari  pengurus  Anggatan  Dasar  Anggaran Rumah Tangga NU Harian Syuriyah dan A'wan.
Pasal 24
1.  Pengurus  Harian  Tanfidziyah  terdiri  dari  Ketua,  beberapa  Wakil  Ketua, Sekretaris,  beberapa  Wakil  Sekretaris,  Bendahara  dan  beberapa  Wakil Bendahara.
2.  pengurus  Lengkap  Tanfidziyah  terdiri  atas  Pengurui!  Harian  Tanfidziyah  dan Ketua Lembaga dan Lajnah tingkat wilayah.
Pasal 25
Pengurus  Pleno  terdiri  dari  Mustasyar,  pengurus  Lengkap  Syuriyah,  pengurus Lengkap Tanfidziyah dan Ketua Badan Otonom tingkat wilayah.

BAB VIII SUSUNAN PENGURUS CABANG PENGURUS CABANG ISTIMEWA
Pasal 26
1.  Mustasyar pengurus Cabang terdiri dari beberapa orang.
2.  Pengurus  Harian  Syuriyah  terdiri  dari  Rais,  beberapa  Wakil  Rais,  Katib  dan beberapa Wakil Katib.
3.  Pengurus Lengkap Syuriyah terdiri dari pengurus Harian Syuriyah dan A'wan.
Pasal 27
1.  Pengurus  Harian  Tanfidziyah  terdiri  dari  Ketua,  beberapa  Wakil  Ketua, Sekretaris,  beberapa  Wakil  Sekretaris,  Bendahara  dan  beberapa  Wakil Bendahara.
2.  Pengurus  Lengkap  Tanfidziyah  terdiri  dari  Pengurus  Harian  Tanfidziyah  dan Ketua Lembaga dan Lajnah tingkat cabang.
Pasal 28
Pengurus Pleno terdiri dari Mustasyar, Pengurus Lengkap Syuriyah, pengurus lengkap Tanfidziyah dan Ketua Badan Otonom tingkat cabang.

BAB IX SUSUNAN PENGURUS MAJELIS WAKIL CABANG
Pasal 29
1.  Mustasyar Majelis Wakil Cabang terdiri dari beberapa orang.
2.  Pengurus  Harian  Syuriyah  terdiri  dari  Rais,  beberapa  Wakil  Rais,  Katib  dan beberapa Wakil Katib.
3.  Pengurus Lengkap Syuriyah terdiri dari pengurus Harian Syuriyah dan A'wan.
Pasal 30
1.  Pengurus Harian Tanfidziyah terdiri dari Ketua, beberapa Wakil Ketua, Sekretaris, beberapa Wakil Sekretaris, Bendahara dan beberapa Wakil Bendahara.
2.  Pengurus Lengkap Tanfidziyah terdiri dari Pengurus Harian Tanfidziyah dan Ketua Lembaga tingkat Majelis Wakil Cabang.
Pasal 31
Pengurus  Pleno  terdiri  dari  Mustasyar,  pengurus  Lengkap  Syuriyah,  Pengurus Lengkap Tanfidziyah dan Ketua Badan Otonom tingkat Majelis Wakil Cabang.

BABX SUSUNAN PENGURUS RANTING
Pasal 32
1.  Pengurus  Harian  Syuriyeh  terdiri  dari  Rais,  beberapa  Wakil  Rais,  Katib  dan beberapa Wakil Katib.
2.  Pengurus Lengkap Syuriyah terdiri dari Pengurus Harian Syuriyah dan A'wan.
Pasal 33
Pengurus Harian Tanfidziyah terdiri dari Ketua, beberapa Wakil Ketua, Sekretaris, Wakil Sekretaris, Bendahara dan Wakil Bendahara.
Pasal 34
Pengurus Pleno terdiri dari pengurus Syuriyah dan pengurus Tanfidziyah dan Ketua Badan Otonom tingkat ranting.

BAB XI SYARAT MENJADI PENGURUS
Pasal 35
1.  Untuk  menjadi  pengurus  Ranting  atau  Majelis  Wakil  .  Cabang,  seorang  calon harus  sudah  aktif  menjadi  anggota  Nahdlatul  Ulama  atau  Badan  Otonomnya sekurang-kurangnya selama 1 (satu) tahun.
2.  Untuk  menjadi  Pengurus  Cabang,  seorang  calon  harus  sudah  aktif  menjadi anggota Nahdlatul Ulama atau Badan Otonomnya sekurang-kurangnya selama 2 (dua) tahun.
3.  Untuk  menjadi  Pengurus  Wilayah,  seorang  calon  harus  sudah  aktif  menjadi anggota Nahdlatul Ulama atau Badan Otonomnya sekurang-kurangnya selama 3 (tiga)  tahun.  Untuk  menjadi  pengurus  Besar,  seorang  calon  harus  sudah  aktif menjadi  anggota  Nahdlatul  Ulama  atau  Badan  Otonomnya  sekurang-kurangnya selama 4 (empat) tahun.
4.  Keanggotaan pada ayat 1, 2, 3 dan 4 pasal ini adalah sebagaimana dimaksud Pasal 7 ayat (2) Anggaran Dasar dan Pasal 1 butir (a) dan (b) Anggaran Rumah Tangga.

 BAB XII PEMILIHAN DAN PENETAPAN PENGURUS
Pasal 36
Pemilihan dan penetapan pengurus Besar Nahdlatul Ulama:
a.  Rais Aam dipilih secara langsung oleh Muktamar.
b.  Wakil  Rais  Aam  ditunjuk  oleh  Rais  Aam terpilih  setelah  mempertimbangkan aspirasi yang berkembang.
c.  Ketua  Umum  dipilih  secara  langsung  oleh  Muktamar  dengan  terlebih  dahulu mendapat  persetujuan  dari  Rais  Aam  terpilih  setelah  mempertimbangkan aspirasi yang berkembang.
d.  Rais  Aam  terpilih,  Wakil  Rais  Aam  dan  Ketua  Umum  terpilih  bertugas melengkapi  susunan  pengurus  :  Mustasyar,  Harian  Syuriyah  dan  Harian Tanfidziyah dengan dibantu oleh beberapa anggota mede formatur yang dipilih dari dan oleh peserta Muktamar.
e.  Pengisian A'wan, Ketua Lembaga dan Ketua Lajnah ditetapkan oleh pengurus Harian Syuriyah dan Tanfidziyah.
f.  Pengurus  Harian  Syuriyah  dan  Tanfidziyah  dapat  membentuk  tim  tertentu untuk menyusun kelengkapan Pengurus Lembaga dan Lajnah.
Pasal 37
Pemilihan pengurus Wilayah Nadhlatul Ulama:
a.  Rais Syuriyah dipilih secara langsung oleh Konferensi Wilayah.
b.  Ketua  Tanfidziyah  dipilih  secara  langsung  oleh  Konferensi  Wilayah  dengan terlebih  dahulu  mendapat  persetujuan  dari  Rais  Syuriyah  terpilih  estela mempertimbangkan aspirasi yang berkembang.
c.  Rais  Syuriyah.  dan  Ketua  Tanfidziyah  terpilih  bertugas  melengkapi  susunan Pengurus  Mustasyar,  Harian  Syuriyah  dan Harian  Tanfidziyah dengan dibantu oleh  beberapa  anggota  mede  formatur  yang  dipilih  dari  dan  oleh  peserta Konferensi Wilayah.
d.  Pengisian  A'wan Ketua  Lembaga  dan  Ketua Lajnah  ditetapkan  oleh  pengurus Harian Syuriyah dan Tanfidziyah.
e.  Pengurus  Harian  Syuriyah  dan  Tanfidziyah  dapat  membentuk  tim  untuk menyusun kelengkapan Pengurus Lembaga dan Lajnah.  Pasal 38
Pemilihan Pengurus Cabang/Pengurus Cabang Istimewa Nadhlatul Ulama:
a.  Rais Syuriyah dipilih secara langsung oleh Konferensi Cabang/Cabang Istimewa.
b.  Ketua  Tanfidziyah  dipilih  secara  langsung  oleh  Konferensi  Cabangl  Cabang Istimewa  dengan  terlebih  dahulu  mendapat  persetujuan  dari  Rais  Syuriyah terpilih setelah mempertimbangkan aspirasi yang berkembang.
c.  Rais  Syuriyah  dan  Ketua  Tanfidziyah  terpilih  bertugas  melengkapi  susunan pengurus: Mustasyar, Harian Syuriyah dan Harian Tanfidziyah dengan dibantu oleh  beberapa  anggota  mede  formatur  yang  dipilih  dari  dan  oleh  peserta Konferensi Cabangl Cabang Istimewa.
d.  Pengisian A'wan. Ketua Lembaga dan Ketua Lajnah ditetapkan oleh Pengurus Harian Syuriyah dan Tanfidziyah.
e.  Pengurus  Harian  Syuriyah  dan  Tanfidziyah  dapat  membentuk  tim  tertentu untuk menyusun kelengkapan pengurus Lembaga dan Lajnah.
Pasal 39
Pemilihan pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama:
a.  Rais Syuriyah dipilih secara langsung oleh Konferensi Majelis Wakil Cabang.
b.  Ketua Tanfidziyah dipilih secara langsung oleh Konferensi Majelis Wakil Cabang dengan  terlebih  dahulu  mendapat  persetujuan  dari  Rais  Syuriyah  terpilih setelah mempertimbangkan aspirasi yang berkembang.
c.  Rais  Syuriyah.  dan  Ketua  Tanfidziyah  terpilih  bertugas  melengkapi  susunan Pengurus : Mustasyar, Harian Syuriyah dan Harian Tanfidziyah dengan dibantu oleh  beberapa  anggota  mede  formatur  yang  dipilih  dari  dan  oleh  peserta Konferensi Majelis Wakil Cabang.
d.  Pengisian A'wan dan Ketua Lembaga ditetapkan oleh Pengurus Harian syuriyah dan Tanfidziyah.
e.  Pengurus  Harian  Syuriyah  dan  Tanfidziyah  dapat  membentuk  tim  tertentu untuk menyusun kelengkapan Pengurus Lembaga.
Pasal 40
Pemilihan Pengurus Ranting Nadhlatul Ulama:
a.  Rais Syuriyah dipilih secara langsung oleh Musyawarah Anggota.
b.  Ketua  Tanfidziyah  dipilih  secara  langsung  oleh  Musyawarah  Anggota  dengan terlebih  dahulu  mendapat  persetujuan  dari  Rais  Syuriyah  terpilih  estela mempertimbangkan aspirasi yang berkembang.
c.  Rais  Syuriyah,  dan  Ketua  Tanfidziyah  terpilih  bertugas  melengkapi  susunan pengurus  :  Harian  Syuriyah  dan  Harian  Tanfidziyah  dengan  dibantu  oleh beberapa anggota mid formatur yang dipilih dari dan oleh peserta Musyawarah Anggota.
d.  Pengisian A'wan ditetapkan oleh Pengurus Harian Syuriyah dan Tanfidziyah.

BAB XIII PENGISIAN JABATAN ANTAR WAKTU
Pasal 41
1.  Apabila  terjadi  kekosongan  jabatan  Rais  Aam,  maka  Wakil  RaisAam  menjadi pejabat Rais Aam.
2.  Apabila  terjadi  kekosongan  jabatan  Wakil Rais Aam, maka Rais Aam menunjuk salah seorang Rais untuk menjadi Wakii Rais Aam.
3.  Apabila  Wakil  Rais  Aam menjadi  pejabat  Rais Aam, maka  pengisian  Wakil  Rais Aam ditetapkan melalui rapat Pengurus Besar Harian Syuriyah.
4.  Apabila  Rais  Aam  dan  Wakil  Rais  Aam  berhalangan  tetap  dalam  waktu  yang bersamaan, maka :
a.  Rapat Pengurus Lengkap Syuriyah menetapkan Pejabat Rais Aam. b.  Pejabat Rais Aam yang telah ditetapkan menunjuk Pejabat Wakil Rais Aam.
5.  Apabila terjadi kekosongan jabatan Mustasyar, Rais Syuriyah, Katib Aam, Katib, dan  A'wan,  maka  pengisian  jabatan tersebut ditetapkan melalui rapat Pengurus Besar Harian Syuriyah.
Pasal 42
1.  Apabila  Ketua  Umum  berhalangan  sementara,  maka  Ketua  Umum  menunjuk salah seorang Ketua Tanfidziyah sebagai Pelaksana Tugas Harian.
2.  Apabila  Ketua  Umum  berhalangan  tetap,  maka  rapat  Pengurus  Besar  Harian Syuriyah dan Tanfidziyah menetapkan Pejabat Ketua Umum.
3.  Apabila terjadi kekosongan jabatan Ketua Tanfidziyah. Sekretaris Jenderal, Wakil Sekretaris  Jenderal,  Bendahara,  Wakil  Bendahara,  dan  Ketua  Lembaga,  serta Ketua Lajnah maka pengisian jabatan tersebul ditetapkan melalui rapat Pengurus Besar Harian Syuriyah dan Tanfidziyah.
Pasal 43
Apabila  terjadi  kekosongan  jabatan  pada  pimpinan  Wilayah,  pimpinan  Cabang, Cabang Istimewa, Majelis Wakil Cabang, dan Ranting, maka proses pengisian jabatan tersebut  disesuaikan dengan ketentuan sebagaimana tercantum dalam Pasal 41 dan 42 Anggaran Rumah Tangga ini.

BAB XIV MASA JABATAN
Pasal 44
1.  Masa jabatan dalam kepengurusan Nahdlatul Ulama mengikuti ketentuan Pasal12 Anggaran Dasar Nahdlatul Ulama.
2.  Rais Aam dan Ketua Umum dapat dipilih kembali.
3.  Pengurus  Lembaga  dan  Lajnah  yang  masa  jabatannya  sudah  berakhir,  tetap melaksnakan  tugasnya  sampai  dengan  terbentuknya  kepengurusan  yang  baru, dengan tidak mengambil kebijakan yang mendasar.
4.  Masa  jabatan  Badan  Otonom  sesuai  dengan  ketentuan  Badan  Otonom  yang bersangkutan.

BAB XV RANGKAP JABATAN
Pasal 45
1.  Jabatan pengurus Harian Nahdlatul Ulama, Lembaga. Lajnah dan Badan Otonom, tidak  dapat  dirangkap  dengan  jabatan  pengurus  harian  pada  semua  tingkat kepengurusan  yang  lain,  baik  dalam organisasi Nahdlatul  Ulama maupun dalam perangkatnya.
2.  Jabatan pengurus Harian Nahdlatul Ulama, Lembaga. Lajnah dan Badan Otonom pada semua tingkat kepengurusan tidak dapat dirangkap dengan jabatan Pengurus Harian Partai Politik dan atau Organisasi yang berafiliasi kepadanya.
3.  Jika pengurus  Harian Nahdlatul Ulama mencalonkan diri atau dicalonkan untuk mendapatkan jabatan politik. maka yang bersangkutan harus non aktif sementara hingga  penetapan  jabatan  politik  tersebut  dinyatakan  final  dan  apabila  terpilih maka  yang  bersangkutan  dapat  mengundurkan  diri  atau  diberhentikan  dengan hormat.
4.  Rincian  aturan  pelarangan  rangkap  jabatan  pad  a  ayat  (1  ).  (2)  dan  (3)  diatur dalam Peraturan Organisasi.

BAB XVI PENGESAHAN DAN PEMBEKUAN PENGURUS
Pasal 46
1.  Susunan  dan  personalia  pengurus  Wilayah.  Pengurus  Cabang  dan  Pengurus Cabang Istimewa disahkan oleh Pengurus Besar.
2.  Dalam pengesahan  susunan  dan  personalia  Pengurus Cabang, kecuali Pengurus Cabang Istimewa harus dengan rekomendasi Pengurus Wilayah.
3.  Susunan dan personalia pengurus Majelis Wakil Cabang disahkan oleh Pengurus Cabang.
4.  Susunan  dan  p.ersonalia  Pengurus  Ranting  disahkan  oleh  Pengurus  Cabang dengan rekomendasi Pengurus Majelis Wakil Cabang.
Pasal 47
1.  Susunan dan personalia pimpinan Lembaga dan  Lajnah tingkat pusat ditetapkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
2.  Susunan dan personalia pimpinan Lembaga dan Lajnah tingkat Wilayah ditetapkan oleh  Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama dan dilaporkan lepada Pimpinan Pusat Lembaga atau Lajnah yang bersangkutan.
3.  Susunan dan personalia pimpinan Lembaga dan Lajnah tingkat Cabang ditetapkan oleh Pengurus Cabangl Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama dan dilaporkan kepada Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Pusat Lembaga atau Lajnah yang bersangkutan.
Pasal 48
1.  Pengurus  Besar  dapat  membekukan  Pengurus  Wilayah  dan  Pengurus  Cabang melalui keputusan yang ditetapkan oleh Rapat Pleno rengurus Besar.
2.  Pengurus  Besar  dapat  membekukan  Pengurus  Majelis  Wakil  Cabang  dan Pengurus  Ranting  setelah  mendapat  rekomendasi  dari  Pengurus  Cabang  dan Pengurus Cabang.
3.  Pembekuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) Pasal ini didasarkan pada pertimbangan syar'i dan atau ketentuan organisasi.
4.  Sekurang-kurangnya 15 (lima belas) hari sebelum pembekuan dilakukan, terlebih dahulu diberi peringatan tertulis untuk memperbaiki. 5.  Kepengurusan  yang dibekukan diambil alih  oleh Pengurus setingkat lebih tinggi dengan  tugas  mempersiapkan  penyelenggaraan  permusyawaratan  yang  akan memilih pengurus baru.
6.  Selambat-Iambatnya 3 (tiga) bulan setelah pembekuan harus sudah terselenggara permusyawaratan untuk memilih Pengurus baru.

BAB XVII TUGAS DAN WEWENANG PENGURUS
Pasal 49
1.  Mustasyar adalah ulama atau tokoh yang telah memberikan dedikasi, pengabdian dan loyalitasnya kepada Nahdlatul Ulama.
2.  Mustasyar  bertugas  memberikan  nasehat  kepada  Pengurus  Nahdlatul  Ulama menurut tingkatannya baik diminta atau tidak.
Pasal 50
1.  Pengurus  Syuriyah  selaku  pimpinan  tertinggi  sebagai  pembina,  pengendali, pengawas  dan  penentu  kebijakan  Nahdlatul  Ulama  mempunyai  tugas  dan wewenang:
a.  Menentukan  arah  kebijakan  Nahdlatul  Ulama  dalam  melakukan  usaha  dan tindakan untuk mencapai tujuan Nahdlatul Ulama.
b.  Memberikan  petunjuk,  bimbingan  dan  pembinaan  pemahaman,  pengamalan dan  pengembangan  ajaran  Islam  berdasar  faham  Ahlussunnah  wal  Jamaah, baik di bidang aqidah, syari'ah maupun akhlaq/tasawuf.
c.  Mengendalikan,  mengawasi  dan  memberikan  koreksi  sesuai  dengan pertimbangan syar'i dan ketentuan organisasi.
d.  Membatalkan  keputusan  perangkat organisasi Nahdlatul Ulama  sebagaimana yang dimaksud pad a Pasal19 butir (d)Anggaran Dasar. 2. Pembagian tugas di antara anggota pengurus Syuriah diatur dalam Peraturan Tata Kerja Organisasi
Pasal 51
1.  Pengurus  Tanfidziyah  sebagai  pelaksana  mempunyai  kewajiban  memimpin jalannya organisasi.
2.  Pengurus Tanfidziyah sebagai pelaksana mempunyai tugas:
a.  Memimpin  jalannya  organisasi  sehari-hari  sesuai  dengan  kebijakan  yang ditentukan oleh Pengurus Syuriyah.
b.  Melaksanakan program Jam'iyah Nahdlatul Ulama.
c.  Membina  dan mengawasi kegiatan semua perangkat Jam'iyah yang berada di bawahnya.
d.  Menyampaikan  laporan  secara  periodik  kepada  pengurus  Syuriyah  tentang pelaksanaan tugasnya.
3.  Dalam menggerakkan dan mengelola program, pengurus Tanfidziyah berwenang membentuk tim kerja tetap atau sementara sesuai kebutuhan.
4.  Ketua Umum pengurus Besar, Ketua pengurus Wilayah, Ketua Pengurus Cabang, Cabang  Istimewa,  Ketua  pengurus  Majelis  Wakil  Cabang  dan  Ketua  pengurus Ranting karena jabatannya berhak menghadiri Rapat  Harian dan Rapat Lengkap Pengurus Syuriyah sesuai dengan tingkatannya masingmasing.
5.  Pembagian  tugas diantara anggota Pengurus Tanfidziyah diatur dalam Peraturan Tata Kerja Organisasi.

BAB XVIII KEWAJIBAN DAN HAK PENGURUS
Pasal 52
1. Pengurus berkewajiban :
a. Menjaga dan menjalankan amanat organisasi.
b. Menjaga keutuhan organisasi kedalam maupun keluar.
c. Mematuhi ketentuan-ketentuan organisasi.
2. Pengurus berhak :
a.  Membuat  kebijakan,  keputusan  dan  peraturan  organisasi  sepanjang  tidak bertentangan  dengan  Anggaran  Dasar  dan  Anggaran  Rumah  Tangga  atau keputusan pengurus Nahdlatul Ulama yang lebih tinggi.
b.  Memberikan saran atau koreksi kepada Pengurus setingkat lebih tinggi dengan tujuan dan cara yang baik.
c.  Memberikan  motivasi  dan  dorongan  kepada  Lembaga,  Lajnah  dan  Badan Otonom untuk meningkatkan kinerjanya.  

BAB XIX PERMUSYAWARATAN TINGKAT NASIONAL
Pasal 53
1.  Muktamar  adalah  instansi  permusyawaratan  tertinggi  di  dalam  organisasi Nahdlatul  Ulama, diselenggarakan oleh Pengurus  Besar Nahdlatul Ulama, sekali dalam 5 (lima) tahun.
2.  Muktamar dipimpin oleh pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
3.  Muktamar dihadiri oleh :
a. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
b. Pengurus Wilayah.
c. pengurus Cabang/ Cabang Istimewa.
4. Muktamar adalah sah apabila dihadiri oleh dua pertiga jumlah Wilayah dan     Cabang/ Cabang Istimewa yang sah.
5. Untuk penyelenggaraan Muktamar, pengurus Besar Nahdlatul Ulama membentuk       Panitia Penyelenggara yang bertanggung jawab kepada pengurus Besar Nahdlatul        Ulama.
6. PBNU berkewajiban menyampaikan Laporan Pertanggung Jawaban Organisasi       dalam Muktamar.
7. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama membuat Susunan Acara Muktamar dan        Rancangan Peraturan Tata Tertib Muktamar yang mencakup susunan dan tata        cara pemilihan Pengurus.
Pasal 54
Muktamar  Luar  Biasa  sebagaimana  dimaksud  Pasal17  ayat  (1)  butir  (b)  Anggaran Dasar,  dapat  diselenggarakan  atas  permintaan  Pengurus  Besar  Syuriyah  dengan ketentuan:
a.  Diselenggarakan  untuk  menyelesaikan  masalah-masalah  nasional  atau mengenai keberadaan Perkumpulan/Jam'iyah Nahdlatul Ulama.
b.  Penyelesaian  masalah-masalah  dimaksud  butir  (a)  tak  dapat  diselesaikan dalam permusyawaratan lain.
c.  Atas  dasar  keputusan  Rapat  Pleno  Pengurus  Besar  dan  rekomendasi Konferensi Besar.
Pasal 55
1.  Konferensi  Besar  merupakan  instansi  permusyawaratan  tertinggi  setelah Muktamar dan diadakan oleh Pengurus Besar.
2.  Konferensi  Besar  dihadiri  oleh  anggota  Pengurus  Besar  Pleno  dan  utusan Pengurus Wilayah.
3.  Konferensi Besar dapat juga diselenggarakan atas permintaan sekurangkurangnya separuh dari jumlah Pengurus Wilayah yang sah.
4.  Konferensi  Besar  membicarakan  pelaksanaan  keputusan-keputusan  Muktamar dan mengkaji perkembangan organisasi serta peranannya ditengah masyarakat.
5.  Konferensi  Besar tidak  dapat mengubah  Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, keputusan Muktamar dan tidak memilih Pengurus baru.
6.  Konferensi  Besar  adalah  sah  apabila  dihadiri  oleh  lebih  dari  separuh  jumlah peserta sebagaimana dimaksud ayat (2) Pasal ini.
7.  Susunan  acara  dan  peraturan  Tata  Tertib  Konferensi  Besar  ditetapkan  oleh pengurus Besar.
8.  Konferensi Besardipimpin oleh pengurus Besar.
9.  Konferensi Besar diadakan satu kali dalam tengah masa jabatan pengurus Besar.
Pasal 56
1.  Musyawarah  Nasional  Alim  Ulama  yang  diselenggarakan  oleh  pengurus  Besar Syuriyah.  sekurang-kurangnya  1  (satu)  kali  dalam  1  (satu)  masa  jabatan kepengurusan untuk membicarakan masalah keagamaan.
2.  Musyawarah  tersebut  dapat  mengundang  Alim  Ulama,  pengasuh  Pondok Pesantren dan Tenaga Ahli, baik dari dalam maupun dari luar Pengurus Nahdlatul Ulama.
3.  Musyawarah  Nasional  Alim  Ulama  tidak  dapat  mengubah  Anggaran  Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Keputusan-keputusan Muktamar dan tidak mengadakan pemilihan Pengurus.
4.  Musyawarah  Alim  Ulama  yang  serupa  dapat  juga diselenggarakan  oleh  Wilayah atau Cabang, sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam 1 (satu) masa jabatan.
Pasal 57
1.  Rapat  Koordinasi  Nasional  diselenggarakan  oleh  Pengurus  Besar  untuk melaksanakan  koordinasi  atas  suatu  masalah  atau  kewajiban  organisasi  yang mendesak.
2.  Rapat Koordinasi Nasional dapat diselenggarakan sewaktu-waktu sesuai dengan keperluan.
3.  Rapat Koordinasi Nasional dihadiri oleh Pengurus Besar dan Pengurus Wilayah.
 
BAB XX PERMUSYAWARATAN TlNGKAT DAERAH  
Pasal 58 
1.  Konferensi  Wilayah  adalah  instansi  permusyawaratan  tertinggi  untuk  tingkat Wilayah, dihadiri oleh Pengurus Wilayah dan utusan pengurus Cabang yang ada di daerahnya. terdiri dari Syuriyah dan Tanfidziyah. 
2.  Konferensi Wilayah diselenggarakan sekali dalam 5 (lima) tahun. 
3.  Konferensi Wilayah diselenggarakan  atas undangan Pengurus Wilayah atau atas permintaan sekurang-kurangnya separuh jumlah Cabang yang ada di daerahnya. 
4.  Konferensi  Wilayah  membicarakan  pertanggung  jawaban  Pengurus  Wilayah. menyusun rencana kerja 5 (lima) tahun. memilih pengurus Wilayah yang baru dan membahas  masalah-masalah  keagamaan  dan  kemasyarakatan  pada  umumnya terutama yang terjadi diwilayah bersangkutan. 
5.  Pengurus  Wilayah  membuat  Rancangan  Tata  Tertib  Konferensi  termasuk  di dalamnya  tata  cara  pemilihan  pengurus  baru  sebagaimana  dimaksud  Pasal  (37) Anggaran Rumah Tangga. 
6.  Konferensi  Wilayah  adalah  sah  apabila  dihadiri  oleh  lebih  dari  separuh jumlah Cabang  di  daerahnya  dan  dalam  pengambilan  keputusan,  pengurus  Wilayah sebagai lembaga dan tiap-tiap Cabang yang hadir mempunyai hak 1 (satu) suara.   
Pasal 59 
1.  Musyarawah  Kerja  Wilayah  diselenggarakan  oleh  Pengurus  Wilayah sekurangkurangnya 2 (dua) kali dalam 1 (satu) periode kepengurusan. 
2.  Musyawarah Kerja Wilayah dihadiri oleh pengurus Pleno Wilayah dan Pengurus Cabang di daerahnya.  
3.  Musyawarah  Kerja  Wilayah  membicarakan  pelaksanaan  keputusan-keputusan Konferensi  Wilayah,  mengkaji  perkembangan  organisasi  dan  peranannya  di tengah masyarakat, membahas masalah keagamaan dan kemasyarakatan.  
4.  Dalam Musyawarah Kerja Wilayah tidak diadakan pemilihan Pengurus baru.  
Pasal 60 
1.  Konferensi  Cabang  adalah  instansi  permusyawaratan  tertinggi  untuk  tingkat Cabang, dihadiri oleh Pengurus Cabang, utusan Pengurus Majelis Wakil Cabang dan  Pengurus  Ranting  yang  ada  di  daerahnya,  terdiri  dari  Syuriyah  dan Tanfidziyah. 
2.  Konferensi  Cabang  diadakan  atas  undangan  Pengurus  Cabang  atau  atas permintaan  sekurang-kurangnya separuh dari jumlah Majelis Wakil Cabang dan Ranting didaerahnya. 
3.  Konferens  Cabang  membicarakan  pertanggungjawaban  Pengurus  Cabang, menyusun  rencana  kerja  5  (lima)  tahun,  memilih  Pengurus  Cabang  dan membahas  masalah-masalah  keagamaan  dan  kemasyarakatan  pada  umumnya. terutama yang terjadi di Cabang yang bersangkutan. 
4.  Pengurus  Cabang  membuat  Rancangan  Tata  Tertib  Konferensi,  termasuk  tata cara  pemilihan  pengurus  sebagaimana  dimaksud  Pasal  38  Anggaran  Rumah Tangga. 
5.  Konferensi  Cabang  adalah  sah  apabila  dihadiri  oleh  lebih  dari  separuh  jumlah Majelis  Wakil  Cabang  dan  Ranting  di  daerahnya  dan  dalam  pengambilan keputusan, Pengurus Cabang sebagai lembaga dan tiap-tiap Majelis Wakil Cabang dan Ranting yang hadir mempunyai hak 1 (satu) suara.  
Pasal 61 
1.  Musyarawah  Kerja  Cabang  diselenggarakan  oleh  Pengurus  Cabang sekurangkurangnya 2 (dua) kali dalam 1 (satu) periode kepengurusan. 
2.  Musyawarah Kerja  Cabang dihadiri oleh pengurus Pleno Cabang dan Pengurus Majelis Wakil Cabang di daerahnya. 
3.  Musyawarah  Kerja  Cabang  membicarakan  pelaksanaan  keputusan-keputusan Konferensi Cabang, mengkaji perkembangan organisasi dan peranannya di tengah masyarakat. membahas masalah keagamaan dan kemasyarakatan. 
4.  Dalam Musyawarah Kerja Cabang tidak diadakan pemilihan Pengurus baru.  
Pasal 62 
1.  Konferensi  Majelis  Wakil Cabang adalah instansi  permusyawaratan  tertingi ada tingkat Majelis Wakil Cabang, dihadiri oleh pengurus Majelis Wakil Cabang dan utusan  Pengurus  Ranting  yang  ada  di  daerahnya.  terdiri  dari  Syuriyah  dan Tanfidziyah. 
2.  Konferensi  Majelis  Wakil  Cabang  diselenggarakan  atas  undangan  pengurus Majelis  Wakil  Cabang  atau  atas  permintaan  sekurang-kurangnya  setengah  dari jumlah Ranting di daerahnya. 
3.  Konferensi  Majelis  Wakil Cabang membicarakan pertanggungjawaban Pengurus Majelis  Wakil  Cabang,  penyusunan  rencana  kerja  untuk  masa  5  (lima)  tahun, memilih  Pengurus  Wakil  Cabang  dan  membahas  masalah kemasyarakatan  pada umumnya, terutama yang terjadi di daerahnya. 
4.  Pengurus  Majelis  Wakil  Cabang  membuat  Rancangan  Tata  Tertib  Konferensi, termasuk tata cara pemilihan Pengurus sebagaimana dimaksud Pasal 39 Anggaran Rumah Tangga. 
5.  Konferensi  Majelis  Wakil  Cabang  adalah  sah  apabila  dihadiri  oleh  lebih  dari separuh dari jumlah Ranting di daerahnya. Dalam setiap pengambilan keputusan, Pengurus Majelis Wakil Cabang sebagai satu kesatuan dan tiap-tiap Ranting yang hadir masing-masing mempunyai 1 (satu) suara.  
Pasal 63 
1.  Musyarawah Kerja Majelis Wakil Cabang diselenggarakan oleh pengurus Majelis Wakil  Cabang  sekurang-kurangnya  2  (dua)  kali  dalam  1  (satu)  periode kepengurusan. 
2.  Musyawarah  Kerja  Majelis  Wakil  Cabang  dihadiri  oleh  Pengurus  Pleno  Majelis Wakil Cabang dan Pengurus Ranting di daerahnya. 
3.  Musyawarah Kerja Majelis Wakil Cabang membicarakan pelaksanaan keputusan-keputusan Konferensi Majelis Wakil Cabang, mengkaji perkembangan organisasi dan  peranannya  di  tengah  masyarakat,  membahas  masalah  keagamaan  dan kemasyarakatan. 4.  Dalam  Musyawarah  Kerja  Majelis  Wakil  Cabang  tidak  diadakan  pemilihan Pengurus baru.  
Pasal 64 
1.  Musyawarah  Anggota  adalah  instansi  permusyawaratan  tertinggi  pada  tingkat Ranting  yang  dihadiri  oleh  anggota-angota  Nahdlatul  Ulama  di  daerah  Ranting dan diselenggarakan sekali dalam 5 (lima) tahun. 
2.  Musyawarah Anggota diselenggarakan atas undangan pengurus Ranting atau atas permintaan sekurang-kurangnya separuh dari jumlah anggota Nahdlatul Ulama di Ranting bersangkutan. 
3.  Musyawarah  Anggota  adalah  sah  apabila  dihadiri  lebih  dari  separuh  anggota Nahdlatul  Ulama  di  Ranting  tersebut.  Setiap  anggota  mempunyai  hak  1  (satu) suara 
4.  Musyawarah  Anggota  membicarakan  Laporan  Pertanggungjawaban  Pengurus Ranting, menyusun rencana kerja untuk 5 (lima) tahun, memilih Pengurus Ranting dan membahas masalah-masalah kemasyarakatan pada umumnya, terutama yang terjadi di daerahnya sebagaimana dimaksud Pasal 40 Anggaran Rumah Tangga.  

BAB XXI KEUANGAN DAN KEKAYAAN  
Pasal 65 
Uang  pangkal,  I'anah  Syahriyah  dan  I'anah  Sanawiyah  yang  diterima  dari  anggota Nahdlatul  Ulama digunakan  untuk  membiayai kegiatan organisasi dan dimanfaatkan dengan perimbangan sebagai berikut: 
a.  55% untuk membiayai kegiatan Ranting. 
b.  20% untuk membiayai kegiatan Majelis Wakil Cabang. 
c.  15% untuk membiayai kegiatan Cabangl Cabang Istimewa. 
d.  10% untuk membiayai kegiatan Wilayah.  
Pasal 66 
1.  Dalam  laporan  pertanggungjawaban  pengurus  Besar  kepada  Muktamar  dimuat pula  pertanggungjawaban  keuangan  dan  inventaris  Pengurus  Besar,  Lembaga, Lajnah dan Badan Otonom. 
2.  Dalam  laporan  pertanggungjawaban  pengurus  Wilayah  kepada  Konferensi dilaporkan pula pertanggungjawaban keuangan dan inventaris pengurus Wilayah, Lembaga, Lajnah dan Badan Otonom. 
3.  Dalam laporan pertanggungjawaban pengurus Cabangl Cabang Istimewa kepada Konferensi  dilaporkan  pula  pertanggungjawaban  keuangan  dan  inventaris pengurus Cabangl Cabang Istimewa, Lembaga. Lajnah dan Badan Otonom. 
4.  Dalam  laporan  pertanggungjawaban  Pengurus  Majelis  Wakil  Cabang  kepada Konferensi dilaporkan pula pertanggungjawaban keuangan dan inventaris Majelis Wakil Cabang, Lembaga dan Badan Otonom. 
5.  Dalam  laporan  pertanggungjawaban  Pengurus  Ranting  kepada  Rapat  Anggota dilaporkan pula pertanggungjawaban keuangan dan inventaris Ranting dan Badan Otonom.  
Pasal 67 
Kekayaan  Nahdlatul  Ulama  yang  berupa  harta  benda  tidak  bergerak  tidak  dapat dialihkan  hak  kepemilikannya  kepada  pihak  lain  kecuali  atas  persetujuan  Pengurus Besar.  

BAB XXII KETENTUAN PENUTUP 
Pasal 68 
1.  Segala  sesuatu  yang  belum  cukup  diatur  dalam  Anggaran  Rumah  Tangga  ini ditetapkan lebih lanjut oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 
2.  Anggaran Rumah Tangga ini hanya dapat diubah oleh Muktamar.  Ditetetapkan di   : Boyolali Pada Tanggal  :18 Syawal1425 H                        01 Desember 2004 M   MUKTAMAR XXXI NAHDLATUL ULAMA PIMPINAN SIDANG PLENO IX                
ttd                                                                           
Drs KH A Hafizh Usman  (Ketua)  
H M Rozy Munir SE MSc  (Wk. Ketua)     
Drs H Taufiq R Abdullah    (sekretaris)                                                                       
Tim Perumus : 
KH. A. Hafizh Utsman       Ketua merangkap anggota (PBNU) 
H.M. Rozy Munir, SE., MSc       Anggota (PBNU) 
Drs. H. Taufiq R Abdullah       Anggota (PBNU) 
Drs. H. Ahmad Fayumi       Anggota (PBNU) 
Drs. H. Syamsuddin Asyrofi M.Hum    Anggota (PWNU Jateng) 
H. Soleh Hayat, SH         Anggota (PWNU Jatim) 
H. Imron Masyhudi         Anggota (PCI Saudi Arabia) 
Drs. Isnadi Nori         Anggota (PWNU Sumsel) 
H. Koman, S.pd.i         Anggota (PWNU Papua) 
Tedy Suryana Anggota       (PWNU Kalsel)  

DOCUMENTS





Share this article :

Posting Komentar

 
Support : NU | GP. ANSOR | PP Muslimat NU
Copyright © 2011. LESBUMI NU TARAKAN - All Rights Reserved
Dukungan MUI dan Kota Tarakan
Proudly powered by Blogger
}); //]]>