Home » » Tata Cara Sholat Gerhana Matahari

Tata Cara Sholat Gerhana Matahari

Written By Unknown on Selasa, 27 Desember 2016 | 12.01

Dalam berbagai khazanah kajian studi Islam dapat kita jumpai pembahasan tentang gerhana matahari maupun gerhana bulan. Dalam kajian kitab-kitab fikih sendiri, gerhana matahari biasa diistilahkan dengan “Kusuf”, sedangkan gerhana bulan dengan istilah “Khusuf”. Hampir dalam semua kitab fiqh membahas gerhana baik gerhana matahari maupun bulan. Pada umumnya pembahasan tersebut meliputi hukum pelaksanaan shalat gerhana beserta tatacaranya yang bersumber dari berbagai Hadis.

Menurut para pakar astronomi gerhana matahari dapat terjadi jika umbra atau penumbra bulan jatuh ke permukaan bumi. Karena bulan lebih kecil daripada matahari, bayang-bayang bulan yang jatuh mengenai permukaan bumi hanya melingkupi luasan yang sempit saja. Oleh karena itu, gerhana matahari yang terjadi dapat dibedakan menjadi tiga macam, gerhana matahari total (bagian bumi yang masuk ke umbra bulan), gerhana matahari sebagian, dan gerhana matahari cincin.

Dalam Al- Qur’an, Allah memaparkan gejala gerhana dalam surat Al Fushilat 37 yang berbunyi:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Artinya:  “Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya (sebuah dalil bahwa Allah itu mempunyai sifat wahdaniyah dan sifat kodrat-Nya) ialah malam, siang, matahari, dan rembulan. Dan janganlah kalian bersujud kepada matahari dan janganlah pula kepada bulan. Tetapi bersujudlah kepada Allah SWT yang menciptkannya. Jika kalian hanya kepada-Nya saja menyembah.” (Al Fushilat: 37)

Di samping ayat Al-Qur’an tersebut, anjuran melaksanakan shalat gerhana juga dipaparkan dalam sebuah hadis dalam kitab Shahih Bukhori Juz 1 halaman 160 dan 161, cetakan Darul Fikr Beirut yang berbunyi:

حَدَّثَنَا شِهَابُ بْنُ عَبَّادٍ قَالَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ حُمَيْدٍ عَنْ إِسْمَاعِيلَ عَنْ قَيْسٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا مَسْعُودٍ يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ مِنْ النَّاسِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَقُومُوا فَصَلُّوْاا

Artinya: “Nabi Muhammad SAW berkata: sesungguhnya matahari dan rembulan tidak mengalami gerhana disebabkan kematian seseorang, akan tetapi keduanya merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah, apabila saat kalian semua melihatnya (gerhana), maka dirikanlah shalat.“

Dalam hadis lain:

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ قَالَ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ صَالِحٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ سَلَّامِ بْنِ أَبِي سَلَّامٍ الْحَبَشِيُّ الدِّمَشْقِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ الزُّهْرِيُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمَّا كَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُودِيَ إِنَّ الصَّلَاةَ جَامِعَةٌ

Hadist ini menjelaskan bahwa ketika matahari mengalami gerhana di zaman Rosulullah SAW, orang –orang dipanggil untuk mendirikan shalat menggunakan kalimat “Asshalatu Jami’ah”. Dalam kitab Nihayatu az-Zain, karya Syaikh an-Nawawi al-Bantani al-Jawi, terdapat redaksi:

و القسم الثاني من النفل ذي السبب المتقدم وهو ما تسن فيه الجماعة صلاة ( الكسوفين ) أي صلاة كسوف الشمس وصلاة خسوف القمر وهي سنة مؤكدة وأقلها ركعتان كراتبة الظهر.  نهاية الزين ص: 109

Berdasarkan sumber dalil-dalil di atas, bahwa melaksanakan shalat Kusuf (gerhana matahari) hukumnya adalah Sunnah Mu’akkad (shalat Sunnah yang dianjurkan untuk dilaksanakan). Menurut keterangan Imam syafi’i di kitab al-Uum, bahwa tidak  diperbolehkan meninggalkan shalat  kusuf tersebut, karena akan berdampak pada terkenanya hukum makruh. Untuk itu sangat dianjurkan melaksanakanya.sanaan Shalat Gerhana

Tatacara melaksanakan shalat gerhana baik matahari, ataupun rembulan dilandaskan pada sebuah keterangan dalam kitab Shahih Bukhori juz 1 halaman 163, hadis riwayat ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha yang berbunyi:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ وَهِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى بِالنَّاسِ فَأَطَالَ الْقِرَاءَةَ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَأَطَالَ الْقِرَاءَةَ وَهِيَ دُونَ قِرَاءَتِهِ الْأُولَى ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ دُونَ رُكُوعِهِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ قَامَ فَصَنَعَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ قَامَ فَقَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ يُرِيهِمَا عِبَادَهُ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلَاةِ.

Artinya: “Dari Aisyah, beliau menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemuadian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya, beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak. Setelah itu beliau berkhotbah di hadapan orang banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda, ”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Keduanya adalah tanda-tanda (kebesaran) Allah yang diperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya. Jika kalian melihatnya, maka cemaslah dengan mendirikan Shalat.” (HR. Bukhori)

Adapun cara melaksanakan shalat gerhana matahari dan bulan ada tiga macam cara, sebagai berikut:

Melaksanakan shalat 2 roka’at sebagaimana shalat 2 rokaatnya shalat sunnah dhuhur.
Melaksanakan shalat 2 rokaat dengan melakukan dua kali ruku’ dan dua kali berdiri pada setiap rokaatnya. Ini adalah cara yang melaksanakan shalat gerhana yang mendekati sempurna.
Melakasanakan shalat 2 roka’at dengan melakukan dua kali ruku’ dan dua kali berdiri dan ditambah dengan membaca surat yang panjang pada setiap raka’atnya. Ini adalah cara melaksanakan shalat gerhana yang lebih sempurna.
Adapun bentuk tata cara dari shalat gerhana matahari sebagai berikut:

Melakukan takbiratul Ihram dengan disertai ni’at shalat gerhana dengan cara menta’yin (menentukan) shalat gerhana yang dilaksanakan apakah shalat gerhana matahari atau gerhana bulan.
Contoh:

أُصَلّيْ سُنَّةَ الْكُسُوْفِ / الْخُسُوْفِ  رَكْعَتَيْنِ سُنَّةً للهِ  تَعَالَى

Setelah membaca do’a iftitah dan ta’awudz, maka membaca surat al-Fatihah sebagaimana shalat lain. lalu dilanjutkan dengan membaca surat al-Baqoroh (kurang lebih dari surat Al baqorah), lalu dilanjutkan dengan ruku’ dan i’tidal. keadaan ini dilaksanakan pada saat posisi berdiri yang pertama di raka’at yang pertama.
Disaat berdiri yang kedua dalam roka’at yang pertama, setelah ta’awudz membaca surat al-Fatihah, kemudian membaca kira-kira seukuran 200 ayat dari surat al-Baqoroh, lalu dilanjutkan dengan ruku’, I’tidal, dua kali sujud, duduk di antara dua sujud sebagaimana shalat yang lainnya, maka sempurnalah pelaksanan satu raka’at yang pertama pada shalat gerhana matahari.
Lalu dilakukan dengan melakukan raka’at yang kedua, tata cara pelaksanaannya sama dengan raka’at yang pertama, akan tetapi ada perbedaan dalam 2 kali berdiri yang ada pada roka’at kedua. Saat berdiri yang pertama setelah membaca surat al-Fatihah membaca kira-kira 150 ayat yang seukuran dari ayat surat al-baqoroh, sedangkan pada berdiri yang kedua dalam raka’at yang kedua membaca kira-kira 100 ayat yang seukuran dari ayat surat al-Baqoroh.
Dalam melaksanakan shalat Gerhana Matahari disunnahkan hal-hal sebagai berikut:

Shalat dikerjakan berjama’ah di masjid seperti yang dikerjakan pada zaman Rasulullah SAW. Sebelum melaksankan shalat tersebut disunnahkan mandi terlebih dahulu.
Melaksanakan Khutbah dua kali setelah shalat gerhana, dengan tata cara seperti halya khutbah shalat Jum’at. Dalam khutbah tersebut Khotib mendorong agar para orang yang mendengarkan untuk bertaubat, mengerjakan amal baik, berdo’a dan bershadaqoh.
Demikian mengenai hukum dan tatacara shalat gerhana. Semoga ibadah shalat gerhana yang akan kita laksanakan besok pagi bisa menolak bala’ dan mendatangkan kebaikan bagi kita semua. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : NU | GP. ANSOR | PP Muslimat NU
Copyright © 2011. LESBUMI NU TARAKAN - All Rights Reserved
Dukungan MUI dan Kota Tarakan
Proudly powered by Blogger
}); //]]>