Home » » Amaliyah Rebo Wekasan

Amaliyah Rebo Wekasan

Written By Unknown on Selasa, 29 November 2016 | 18.48

Bulan Shafar  adalah bulan kedua dalam penanggalan hijriyah Islam. Sebagaimana
bulan lainnya, ia merupakan bulan dari bulan-bulan Allah yang  tidak memiliki
kehendak dan  berjalan sesuai dengan apa yang Allah ciptakan untuknya.
Masyarakat jahiliyah kuno, termasuk bangsa Arab, sering mengatakan bahwa bulan
Shafar adalah bulan sial. Tasa'um (anggapan sial) ini telah terkenal pada umat jahiliah
dan sisa-sisanya masih ada di kalangkan muslimin hingga saat ini.

Abu Hurairah berkata, bersabda Rasulullah,

"Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), 
tidak pula ramalan sial, tidak pula burung hantu dan juga tidak ada kesialan pada
 bulan Shafar. Menghindarlah dari penyakit kusta sebagaimana engkau 
menghindari singa." (H.R.Imam al-Bukhari dan Muslim).

Ungkapan hadits laa ‘adwaa’ atau tidak ada penularan penyakit itu, bermaksud
meluruskan keyakinan golongan jahiliyah, karena pada masa itu mereka berkeyakinan
 bahwa penyakit itu dapat menular dengan sendirinya, tanpa bersandar pada
ketentuan dari takdir Allah.

Sakit atau sehat, musibah atau selamat, semua kembali kepada kehendak Allah.
Penularan hanyalah sebuah sarana berjalannya takdir Allah. Namun, walaupun
keseluruhannya kembali kepada Allah, bukan semata-mata sebab penularan,
manusia tetap diwajibkan untuk ikhtiar dan berusaha agar terhindar dari segala
musibah. Dalam kesempatan yang lain Rasulullah bersabda: “Janganlah onta
yang sakit didatangkan pada onta yang sehat”.

Maksud hadits laa thiyaarota atau tidak diperbolehkan meramalkan adanya hal-hal
buruk adalah bahwa sandaran tawakkal manusia itu hanya kepada Allah, bukan
terhadap makhluk atau ramalan. Karena hanyalah Allah yang menentukan baik dan
buruk, selamat atau sial, kaya atau miskin. Dus, zaman atau masa tidak ada sangkut
pautnya dengan pengaruh dan takdir Allah. Ia sama seperti waktu- waktu yang lain,
ada takdir buruk dan takdir baik.

Empat hal sebagaimana dinyatakan dalam hadits di atas itulah yang ditiadakan oleh
Rasulullah dan ini menunjukkan akan wajibnya bertawakal kepada Allah, memiliki
tekad yang benar, agar orang yang kecewa tidak melemah di hadapkan pada
perkara-perkara tersebut.

Bila seorang muslim pikirannya disibukkan dengan perkara-perkara tersebut,
maka tidak terlepas dari dua keadaan. Pertama: menuruti perasaan sialnya itu
dengan mendahulukan atau meresponsnya, maka ketika itu dia telah menggantungkan
perbuatannya dengan sesuatu yang tidak ada hakikatnya. Kedua: tidak menuruti
perasaan sial itu dengan melanjutkan aktivitasnya dan tidak memedulikan, tetapi dalam
hatinya membayang perasaan gundah atau waswas. Meskipun ini lebih ringan dari yang
pertama, tetapi seharusnya tidak menuruti perasaan itu sama sekali dan hendaknya
bersandar hanya kepada Allah.

Penolakan akan ke empat hal di atas bukanlah menolak keberadaannya, karena
kenyataanya hal itu memang ada. Sebenarnya yang ditolak adalah pengaruhnya.
Allah-lah yang memberi pengaruh. Selama sebabnya adalah sesuatu yang dimaklumi,
maka sebab itu adalah benar. Tapi bila sebabnya adalah sesuatu yang hanya ilusi,
maka sebab tersebut salah.

Muktamar NU yang ketiga, menjawab pertanyaan “bolehkah berkeyakinan terhadap
hari naas, misalnya hari ketiga atau hari keempat pada tiap-tiap bulan, sebagaimana
tercantum dalam kitab Lathaiful Akbar” memilih pendapat yang tidak mempercayai hari
naas dengan mengutip pandangan Syekh Ibnu Hajar al-Haitamy dalam Al-Fatawa
al-Haditsiyah berikut ini:

“Barangsiapa bertanya tentang hari sial dan sebagainya untuk diikuti bukan untuk
ditinggalkan dan memilih apa yang harus dikerjakan serta mengetahui keburukannya,
semua itu merupakan perilaku orang Yahudi dan bukan petunjuk orang Islam yang
bertawakal kepada Sang Maha Penciptanya, tidak berdasarkan hitung-hitungan dan
terhadap Tuhannya selalu bertawakal. Dan apa yang dikutip tentang hari-hari nestapa
dari sahabat Ali kw. Adalah batil dan dusta serta tidak ada dasarnya sama sekali,
maka berhati-hatilah dari semua itu” (Ahkamul Fuqaha’, 2010: 54).

Indikasi Kesialan dalam Quran dan Hadits

Mungkin ada pertanyaan, bagaimana dengan firman Allah Ta’ala, yang artinya:
’’Kaum ‘Aad pun mendustakan (pula). Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan 
ancaman-ancaman-Ku, Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada 
mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus. yang 
menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok korma yang tumbang
(Q.S al-Qamar (54:18-20).

Imam al-Bagawi dalam tafsir Ma’alim al-Tanzil menceritakan, bahwa kejadian itu
(fi yawmi nahsin mustammir)  tepat pada hari Rabu terakhir bulan Shafar. Orang
Jawa pada umumnya menyebut Rabu itu dengan istilah Rabu Wekasan. Hemat penulis,
penafsiran ini hanya menunjukkan bahwa kejadian itu bertepatan dengan
Rabu pada Shafar dan tidak menunjukkan bahwa hari itu adalah kesialan yang
terus menerus.

Istilah hari naas yang terus menerus atau yawmi nahsin mustammir juga terdapat
dalam hadis nabi. Tersebut dalam Faidh al-Qadir, juz 1, hal. 45, Rasulullah bersabda,
Akhiru Arbi’ai fi al-syahri yawmu nahsin mustammir (Rabu terakhir setiap bulan
adalah hari sial terus).”

Hadits ini lahirnya bertentangan dengan hadits sahih riwayat Imam al-Bukhari
sebagaimana disebut di atas. Jika dikompromikan pun maknanya adalah bahwa
kesialan yang terus menerus itu hanya berlaku bagi yang mempercayai. Bukankah
hari-hari itu pada dasarnya netral, mengandung kemungkinan baik dan jelek sesuai
dengan ikhtiar perilaku manusia dan ditakdirkan Allah.

Bagaimana dengan pandangan Abdul Hamid Quds dalam kitabnya Kanzun Najah
Was-Surur Fi Fadhail Al-Azminah wash-Shuhur (penulis sendiri terus terang belum
mengetahui dan meneliti kebenaran nama dan kitab ini, bahkan dalam beberapa
tulisan kitab ini disebut dengan Kanzun Najah Was-Suraar Fi Fadhail Al-Azmina 
Wash-Shuhaar dan Kanju al-Najah wa al-Surur fi al-Adiyati al-Lati Tasrohu al-Sudur)
yang menjelaskan: banyak para Wali Allah yang mempunyai pengetahuan spiritual
yang tinggi mengatakan bahwa pada setiap tahun, Allah  menurunkan 320.000
macam bala bencana ke bumi dan semua itu pertama kali terjadi pada hari Rabu
terakhir di bulan Shafar.
Oleh sebab itu hari tersebut menjadi hari yang terberat di sepanjang tahun. Maka
 barangsiapa yang melakukan shalat 4 rakaat (nawafil, sunnah), di mana setiap
rakaat setelah al-Fatihah dibaca surat al-Kautsar 17 kali lalu surat al-Ikhlash 5 kali,
surat al-Falaq dan surat an-Naas masing-masing sekali; lalu setelah salammembaca
do’a, maka Allah  dengan kemurahan-Nya akan menjag a orang yang bersangkutan
dari semua bala bencana yang turun di hari itu sampai sempurna setahun.
Mengenai amalan-amalan tersebut di atas, mengutip KH. Abdul Kholik Mustaqim,
Pengasuh Pesantren al-Wardiyah Tambakberas Jombang, para ulama yang
menolak adanya bulan sial dan hari nahas Rebo Wekasan berpendapat
(dikutip dengan penyesuaian):

Pertama, tidak ada nash hadits khusus untuk akhir Rabu bulan Shofar, yang 
ada hanya nash hadits dla’if yang menjelaskan bahwa setiap hari Rabu terakhir 
dari setiap bulan adalah hari naas atau sial yang terus menerus, dan hadits dla’if 
ini tidak bisa dibuat pijakan kepercayaan.

Kedua, tidak ada anjuran ibadah khusus dari syara’.Ada anjuran dari sebagian 
ulama’ tasawwuf namun landasannya belum bisa dikategorikan hujjah secara syar’i.

Ketiga, tidak boleh, kecuali hanya sebatas sholat hajat lidaf’ilbala’almakhuf 
(untuk menolak balak yang dihawatirkan) atau nafilah mutlaqoh (sholat sunah mutlak) 
sebagaimana diperbolehkan oleh Syara’, karena hikmahnya adalah agar kita bisa 
semakin mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Mengutip pandangan Rais Syuriah PWNU Jawa Timur, KH Miftakhul Akhyar tentang 
hadits kesialan terus menerus pada Rabu terakhir tiap bulan, dinyatakan:

“Naas yang dimaksud adalah bagi mereka yang meyakininya, bagi yang 
mempercayainya, tetapi bagi orang-orang yang beriman meyakini bahwa setiap 
waktu, hari, bulan, tahun ada manfaat dan ada mafsadah, ada guna dan ada 
madharatnya. Hari bisa bermanfaat bagi seseorang, tetapi juga bisa juga naas 
bagi orang lain…artinya hadits ini jangan dianggap sebagai suatu pedoman, 
bahwa setiap Rabu akhir bulan adalah hari naas yang harus kita hindari. Karena 
ternyata pada hari itu, ada yang beruntung, ada juga yang buntung. Tinggal kita 
berikhtiar meyakini, bahwa semua itu adalah anugerah Allah.







Barang siapa shalat pada hari itu 4 rakaat, yang mana setiap satu rakaat sesudah 
surat Al Fatihah dia membaca:
- Surat Innaa A’thainaakal Kautsar 17 kali
- Surat Al Ikhlash 5 kali
- al Mu’awwidzatain (Surat Al Falaq dan Surat Annaas) masing-masing satu kali
Maka Allah Ta’ala dengan kemurahan_Nya menjaga orang tersebut dari semua 
bala` yang turun pada hari itu, dan satu bala` dari bala` - bala` tersebut tidak 
mengitarinya sampai akhir tahun.
وَالدُّعَاءُ الْمُعَظَّمُ هُوَ
Doa yang agung tersebut ialah
بِسْــمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM
Dengan menyebut asma Allah Yang maha Pengasih lagi Maha Penyayang
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ،
WA SHALLAAHU TA’AALAA ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN 
WA ‘ALAA AALIHII WA SHAHBIHII WASALLAM
Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan salawat dan salam atas 
junjungan kita Nabi Muhammad dan atas keluarga serta para sahabat beliau
ALLAAHUMMA YAA SYADIIDAL QUWAA WA YAA SYADIIDAL 
MIHAAL WA YAA 'AZIIZ DZALLAT LI'IZZATIKA JAMII'U KHALQIKA 
IKFINII MIN JAMII'I KHALQIKA YAA MUHSINU YAA MUJAMMILU 
YAA MUTAFADLDLILU YAA MUN'IMU YAA MUKRIMU YAA MAN 
LAA ILAAHA ILLAA ANTA BIRAHMATIKA YAA ARHAMARRAAHIMIIN
Ya Allah Wahai Yang Maha Kuat kekuatan-Nya, wahai Yang sangat rekadaya-Nya, 
wahai Yang Maha Perkasa yang mana kepada keperkasaan-Mu tunduklah segala 
makhluk, cukupkanlah aku dari segala makhluk-Mu, wahai Yang Maha Baik, 
wahai Yang Maha Memperindah, wahai Yang Maha Memberi karunia, wahai 
Yang Maha Memberi nikmat, wahai Yang Maha Memulyakan, wahai Yang tiada 
Tuhan selain Engkau, kasihilah aku dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha 
Penyayang di antara para penyayang.
ALLAAHUMMA BISIRRIL HASAN WA AKHIIHI WA JADDIHII 
WA ABIIHI IKFINII SYARRA HAADZAL YAUMI WAMAA YANZILU 
FIIHI YAA KAAFI { FASAYAKFIIKAHUMULLAAHU 
WAHUWASSAMII'UL 'ALIIM } WAHASBUNALLAAHU WANI'MAL 
WAKIIL WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL 
'ALIYYIL 'AZHIIM
Ya Allah, dengan rahasia yang ada pada sayyid Hasan, saudaranya (Sayyid Husein) 
kakeknya (Nabi Muhammad shallallaahu ‘Alaihi wasallam) , ayahnya (sayyidina Ali) ,
ibunya (Sayyidah Fathimah), serta keturunannya jauhkanlah hamba dari 
keburukan hari ini dan keburukan yang turun di dalamnya, wahai Dzat Yang mencukupi
( Allah akan mencukupi kamu sekalian dan Allah Maha mengetahui lagi Maha mendengar).
Dia adalah sebaik-baik Dzat Yang mencukupi dan menguasai, tiada daya dan kekuatan 
selain hanya dari Allah yang maha Agung dan maha Luhur
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آٰلِـهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
WASHALLALLAAHU 'ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN 
WA'ALAA AALIHII WASHAHBIHII WASALLAM .
Dan semoga Allah Ta'ala mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kita Nabi
Muhammad beserta keluarga dan para shahabat beliau
Wallahu ‘A’lam

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : NU | GP. ANSOR | PP Muslimat NU
Copyright © 2011. LESBUMI NU TARAKAN - All Rights Reserved
Dukungan MUI dan Kota Tarakan
Proudly powered by Blogger
}); //]]>